Hyper Grace

254 views

Hyper Grace

Oleh

Hendra Zefanya

STT LETS

Ajaran Hyper Grace menjadi ajaran yang telah menimbulkan “pro dan kontra” di antara gereja-gereja Tuhan di seluruh dunia dan khususnya di Indonesia. Para pemimpin Kristen memberikan pernyataan-pernyataan mengenai ajaran Hyper Grace baik yang ”pro maupun yang kontra”. Michael L. Brown melalui bukunya yang berjudul “Hyper Grace” menentang ajaran tentang Hyper Grace menuliskan:  ”Akan tetapi beberapa tahun terakhir pesan yang indah tentang kasih karunia telah bercampur dengan sejumlah penyelewengan dan kekeliruan serius, yang diakui sebagai suatu pewahyuan baru tentang kasih karunia atau yang dikenal dengan atau “revolusi kasih karunia”.1 Melalui bukunya tersebut Michael L Brown menerangkan bahwa ajaran Hyper Grace adalah ajaran yang telah menyelewang dari kebenaran. Sedangkan Paul Ellis salah satu pengajar yang setuju dengan ajaran hyper grace mengatakan dalam bukunya yang berjudul “The Hyper Grace Gospel”, menuliskan: “Kita bisa dari Alkitab bahwa kasih dan anugerah Allah itu hyper; kasih Allah jauh lebih luas, melebihi, dan mengatasi apa yang Anda pikirkan atau bayangkan. 2. Jadi menurut Paul Ellis ajaran tentang Hyper Grace itu tidak keluar dari kebenaran firman Tuhan. Karena Allah yang memberi kasih-Nya dan anugerah-Nya dengan limpah. Jadi apakah ajaran tentang Hyper Grace itu sesat atau tidak? Maka penulis akan menuliskan dasar-dasar Alkitabnya tentang ajaran Hyper Grace.

1. Definisi kata “Hyper”

    Kata “Hyper” dalam bahasa Indonesia “Hiper” mempunyai arti “melampaui di atas menurut kamus indonesia elektronik. Paul Ellis mengatakan: “kata yang Paulus gunakan untuk mendeskripsikan anugerah di dalam Roma 5:20, Tetapi hukum Taurat ditambahkan, supaya pelanggaran menjadi semakin banyak; dan di mana dosa bertambah banyak, di sana kasih karunia menjadi berlimpah-limpah,- “sangat melimpah ruah” – terdiri dari dua kata Yunani: (1) huper, yang dari situ kita mendapatkan awalan hiper (bahasa Inggris: hyper), yang artinya “sangat melimpah ruah, di luar, dan di atas,” dan (2) perisseuo, yang artinya “sangat melimpah ruah (dalam kuantitas) atau superior (dalam kualitas).” 3

2. Di dalam Kristus setiap orang percaya telah menerima kelimpahan kasih karunia.

Dari kepenuhan-Nya kita semua menerima, anugerah di atas anugerah. (Yoh 1:16, ESV)

Karena dari kepenuhan-Nya kita semua telah menerima kasih karunia demi kasih karunia;  (Yoh 1:16 – LAI).

Sebab, jika oleh dosa satu orang, maut telah berkuasa oleh satu orang itu, maka lebih benar lagi mereka, yang telah menerima kelimpahan kasih karunia dan anugerah kebenaran, akan hidup dan berkuasa oleh karena satu orang itu, yaitu Yesus Kristus. (Roma 5:17). Menurut ayat-ayat di atas bahwa setiap orang yang percaya kepada Yesus telah menerima kelimpahan kasih karunia.

3. Kelimpahan kasih karunia dapat menjadi sia-sia

    Tetapi karena kasih karunia Allah aku adalah sebagaimana aku ada sekarang, dan kasih karunia yang dianugerahkan-Nya kepadaku tidak sia-sia. Sebaliknya, aku telah bekerja lebih keras dari pada mereka semua; tetapi bukannya aku, melainkan kasih karunia Allah yang menyertai aku. (1 Korintus 15:10)

Belajar dari pernyataan Rasul Paulus di atas, maka kelimpahan kasih karunia itu dapat menjadi sia-sia. Bagaimana kelimpahan kasih karunia itu dapat menjadi sia-sia? Ketika kelimpahan kasih karunia itu digunakan bukan untuk memuliakan nama Tuhan dan bukan digunakan untuk melakukan kehendak Tuhan. Melainkan digunakan untuk hidup dalam dosa dan melanggar kehendak Tuhan. Ketika orang-orang percaya hidup di dalam dosa dan tidak melakukan apa yang Tuhan perintahkan melalu kebenaran yang tertulis di dalam Alkitab, maka mereka sedang membuat kelimpahan kasih karunia itu menjadi sia-sia.

Kata “sia-sia” menurut Thayer Definition dan Strong’s Definition dalam MySword Bible Elektronik mempunyai arti tidak menghasilkan apa-apa, tanpa efek, sia-sia tanpa tujuan. Kelimpahan kasih karunia dianugerahkan Tuhan kepada orang-orang percaya dengan tujuan agar kehidupan orang-orang percaya hidup sesuai dengan rencana dan kehendak Tuhan. Akan tetapi jika kelimpahan kasih karunia digunakan tidak sesuai dengan tujuan-Nya, di situlah kasih karunia itu tidak dapat menghasilkan apa-apa atau menjadi sia-sia.

Kesimpulan

Jadi menurut penulis ajaran tentang “Hyper Grace” itu tidak sesat berdasarkan point-point yang sudah dituliskan di atas. Akan tetapi ajaran tentang “Hyper Grace” dapat disalahgunakan dalam kehidupan sehari-hari. Kelimpahan kasih karunia sudah diberikan oleh Tuhan kepada setiap orang yang percaya kepada-Nya. Penggunaan kelimpahan kasih karunia itu harus sesuai dengan tujuan Allah, jika tidak maka kelimpahan kasih karunia itu tidak akan menghasilkan apa-apa dan menjadi sia-sia.

Referensi

Brown, ML. (2015). Hyper Grace. Jakarta : Nafiri Gabriel.

Ellis, P. (2015). The Hyper Grace Gospel. Jakarta : Light Publishing.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Please Contact STT LETS...!