Teologi Kemakmuran

217 views

Teologi Kemakmuran

Oleh

Raymond Poltak

STT LETS

Pendahuluan

Kehidupan manusia modern yang sarat dengan materialisme bahkan hedonisme telah mewabah ke segala lini kehidupan, tidak terkecuali dalam kehidupan para hamba Tuhan. Manusia berlomba-lomba ingin menunjukan kesuksesan hidupnya. Ukuran kesuksesan hidup diukur dengan kekayaan, jabatan, pendidikan dan ukuran material lainnya, Sangat jarang ukuran kesuksesan diukur dengan karakter dan kerohanian seseorang. Kondisi ini juga dialami oleh para hamba Tuhan yang menilai kesuksesan pelayanan adalah dengan ukuran fisik/materi seperti kekayaan pribadi,jumlah jemaat, aset gereja dan jabatan dalam organisasi. Semua ini berakar dari paham humanisme yang berfokus kepada diri sendiri, bahkan menggunakan Tuhan untuk kepentingan dirinya.

Teologi kemakmuran yang dipopulerkan di dunia barat ( Amerika Serikat ) berhasil merambah sampai ke eropa bahkan Asia, dimulai dari Korea Selatan sampai akhirnya ke Indonesia. Namun uniknya adalah gereja yang sepaham dengan teologi kemakmuran adalah gereja-gereja yang beraliran pentakosta dan karismatik. Hampir tidak ditemukan gereja-gereja yang beraliran non pentakosta dan karismatik mempercayai teologi ini. Barangkali teologi kemakmuran salah satu faktor pendukung yang membuat gereja-gereja beraliran pentakosta dan karismatik mengalami pertumbuhan yang cukup signifikan di dunia ini.

Gereja yang tidak sepaham dengan teologi kemakmuran bukan berarti sudah lepas dari paham ini. Secara organisasi gereja non pentakosta dan karismatik tidak sependapat dengan teologi karismatik, namun secara pribadi, banyak dari jemaat mempercayai teologi kemakmuran ini. Apalagi kesaksian dari orang-orang yang mempercayai teologi kemakmuran, mampu “membujuk” orang sehingga percaya kepada teologi kemakmuran.

Dengan demikian bisa diasumsikan jika teologi kemakmuran sudah berhasil masuk ke berbagai gereja di seluruh dunia, sehingga perlu diperhatikan dengan seksama, dan para pemimpin gereja dituntut untuk mampu mengkaji dan menguji teologi kemakmuran sehingga tidak “menyesatkan” jemaat.

Pengertian Teologi Kemakmuran

David L Smith menjelaskan bahwa teologi kemakmuran yaitu teologi yang menempatkan umat atau orang percaya di dalam kehidupan yang sangat diberkati kesehatan dan keuangan, kelimpahan materi adalah klaim dari teologi kemakmuran.[1] Dari nama yang digunakan sangat jelas jika teologi kemakmuran merupakan teologi yang sangat menekankan kepada berkat jasmani sebagai ukuran bahwa seseorang berkenan dihadapan Tuhan. KeKristenan yang diberkati adalah orang Kristen yang memiliki harta berlimpah, uang yang banyak, popularitas, kesehatan, jabatan tinggi dan popularitas.

Di dalam teologi kemakmuran kemiskinan dan sakit penyakit adalah kutuk akibat dari dosa. Sehingga kutuk tersebut harus “dibebaskan” dari diri seseorang supaya orang tersebut memperoleh berkat dari Tuhan. Teologi kemakmuran merupakan doktrin yang mengajarkan kesuksesan hidup secara jasmani menujunkan tingkat kerohanian seseorang. Tokoh-tokoh Alkitab seperti Abraham, Daud, Salomo, Ayub  yang memiliki harta yang berlimpah adalah tokoh panutan dan sering dipakai sebagai tokoh yang mewakili kehidupan orang percaya.

Latar Belakang Teologi Kemakmuran

Teologi kemakmuran muncul dan berkembang di abad ke 20 dan dimulai di Amerika Serikat pada tahun 1960-an. Pada era itu Amerika Serikat sedang mengalami kebangkitan ekonomi yang ditandai dengan meningkatnya tingkat kemakmuran masyarakat Amerika Serikat. Wabah materialisme dan hedonimsme begitu menguat di Amerika Serikat. Lalu juga pengajaran “religio-psychriatric” yang menggabungkan antara ilmu psikologi dan agama mengalami terobosan yang luar biasa. Dari peggabungan ini maka munculah buku-buku psikologi popular yang mengajarkan cara memperoleh kesuksesan / kekayaan. Salah satu tokoh yang terkenal adalah Norman Vincent Peale dengan bukunya yang berjudul “Positif Thingking / Berpikir Positif”. Pengajaran dari Norman Vincent Peale mempengaruhi pemikiran dari seorang pendeta di Amerika Serikat yang bernama Robert Schuller.

Dengan kemakmuran yang merambah ke seluruh Amerika Serikat, maka Robert Schuller berhasil membangun sebuah katedral megah yang bernama Kristal Katedral dan mengajarkan teologi kemakmuran kepada seluruh jemaatnya. Robert Schuller dianggap sebagai orang yang mempopulerkan teologi kemakmuran dengan nama teologi sukses. Teologi kemakmuran yang diajarkan oleh Robert Schuller lebih banyak berasal dari pengalaman pribadi dari dirinya sendiri.

Namun para peneliti menyakini bahwa teologi kemakmuran berakar dari seorang yang bernama E.W Kenyon ( 1867-1948) di Inggris. Ia berasal dari gereja Metodist, kemudian berpindah ke Baptis dan terakhir ke Pentakosta. Ia adalah seorang pengkhotbah,pendidik dan penulis yang hebat. Penekanannya pada “iman sebagai sarana mendapatkan janji Allah” tertuang dalam bukunya. Salah satu frasa yang berasal dari Kenyon dan dipakai sampai sekarang adalah “apa yang saya akui, itu yang saya miliki.”[2]

Konsep Kenyon kemudian dikumandangkan oleh beberapa tokoh seperti : Kenneth Coppeland, Kenneth Hagin, Benny Hinn, Oral Roberts, Nasir Saddiki, Robert Tilton, T. D. Jakes,  Morris Cerullo,  Paul Crouch,  Joel Osteen,  John Avanzini,  Fred Price, David (Paul)  Yonggi  Cho,  dan  Peter  Popoff.

Faktor utama teologi kemakmuran mampu menarik banyak pengikut adalah:  

1.Efek  dari  kebangkitan  ekonomi  dan  sekularisasi.  Pasca  Perang  Dunia  II Amerika mengalami perkembangan  ekonomi yang luar biasa. Kemakmuran  merupakan  hal yang  sangat  mudah  didapat  dan  perlahan-lahan  membentuk  pola  pikir  yang  materialistis.

2. Perkembangan   Pemikiran   Baru   (New   Thought).   Kemiripan   yang fundamental  antara  Teologi  Kemakmuran  dan  Gerakan  Jaman  Baru  –  penekanan  pada kemampuan aspek batiniah dan perkataan manusia, nilai-nilai keilahian manusia, kesuksesan dan    kemakmuran    menunjukkan    bahwa    keduanya    saling    berkaitan. 

Pengajaran  Teologi Kemakmuran  bertumbuh  dengan  sangat  pesat  dan subur  setelah  bangkitnya  gerakan  kebangunan  rohani  (abad  18-20).  Mereka  menganggap bahwa pada zaman akhir ini pekerjaan Allah telah dicurahkan dengan lebih nyata, terbukti dengan dicurahkannya karunia Roh secara berkelimpahan, mujizat kesembuhan, penglihatan- penglihatan  dan  lain-lain.  Pencurahan  Roh  Kudus  dan  karuniaNya  merupakan  tanda  atau bukti bahwa Allah telah membuka kesempatan bagi setiap orang percaya untuk mengalami segala kesuksesan dan kemakmuran dalam seluruh aspek kehidupannya. Teologi kemakmuran semakin berkembang disebabkan dukungan dari para penginjil ternama yang sering muncul di televisi dan memberikan khotbah sehingga banyak orang yang tertarik dengan teologi ini.

Doktrin Teologi Kemakmuran

Untuk dapat mengerti mengenai teologi  kemakmuran maka ada beberapa doktrin dasar yang merupakan pandangan dari para penganut teologi kemakmuran, yaitu :

1. Allah dipandang sebagai Allah yang baik dan maha kasih yang senantiasa ingin memberkati anak-anakNya.

Dalam pandangan teologi kemakmuran, penekanan Allah hanya pada atribut maha kasih yang tidak menginginkan anak-anakNya mengalami sakit penyakit, kemiskinan, kesusahan dan berbagai masalah kehidupan lainnya. Tuhan yang maha baik dan kasih itu, pasti ingin anak-anakNya senantiasa diberkati, kaya, sukses, hidup berkelimpahan, sehat, bebas dari kutuk dan masih banyak lainnya. Dengan perkataan lain, bahwa Tuhan senantiasa ingin memberikan kemakmuran kepada anak-anakNya. Teologi kemakmuran juga menggunakan konsep anak Raja, dimana sebagai seorang anak dari Raja di atas Segala raja maka sudah sepatutnya akan menerima segala berkat sebagai seorang anak Raja. Teologi kemakmuran beranggapan bahwa anak Raja tidak layak hidup dalam kemiskinan,penderitaan dan sakit penyakit. Jika orang percaya mengalami kemiskinan atau sakit penyakit, maka itu dianggap sebagai sebuah kutuk yang harus segera dilepaskan lewat doa pelepasan. Teologi kemakmuran juga mempercayai jika kemakmuran itu adalah kehendak Allah bagi semua orang percaya, dan jika orang percaya belum menerima kemakmuran maka bukan disebabkan oleh Allah melainkan oleh manusia itu sendiri. Menurut pemahaman teologi kemakmuran, Allah akan memberikan kemakmuran kepada anak-anakNya asalkan mereka meminta kepada Allah dengan penuh iman maka Allah akan memberikan kemakmuran tersebut (Matius 7:7 dan Yakobus 5:16b).

2. Berkat  jasmani /materi dari Allah adalah ukuran eksternal manusia yang berkenan kepada Tuhan.

Para penganut teologi kemakmuran percaya jika manusia yang diberkati adalah manusia yang berkenan kepada Tuhan. Mereka memberikan contoh tokoh-tokoh di Alkitab yang diberkati melimpah oleh Tuhan, semisal Abraham,Ishak, Yakub, Daud, Salomo, Ayub dan masih banyak tokoh-tokoh Alkitab lainnya. Menurut teologi kemakmuran para Tokoh Alkitab tersebut adalah contoh orang yang hidup berkenan kepada Tuhan dan Tuhan senantiasa memberkati mereka. Berkat yang dimaksud dalam teologi kemakmuran tidak hanya berkat secara rohani melainkan juga berkat jasmani. Bagi mereka berkat materi/jasmani adalah ukuran eksternal artinya ukuran yang dapat dilihat dari kehidupan manusia yang berkenan kepada Allah. Kekayaan dianggap sebagai akibat/hasil dari ketaatan manusia kepada Allah. Berkat jasmani adalah ukuran eksternal dianggap penting sebab dapat diamati dan dapat diukur. Semakin banyak berkat jasmani diterima maka hal itu adalah sesuatu yang baik sebab menunjukan tingkat kehidupan rohani yang lebih baik. Atau jika menggunakan istilah fisika adalah berkat jasmani berbanding lurus dengan tingkat kerohanian seseorang. Hal ini menyebabkan kesaksian hidup dari para penganut teologi kemakmuran berisi kesaksian yang isinya menerima berkat jasmani dari Tuhan seperti menerima uang, mobil, rumah, apartemen, dan kesaksian lain yang sejenisnya. 

3. Keselamatan tidak hanya dipandang bahwa Tuhan menyelamatkan manusia dari dosa, melainkan juga membebaskan manusia dari kutuk dosa (kemisikinan, sakit penyakit dan penderitaan)

Dalam pandangan teologi kemakmuran, bahwa Tuhan tidak hanya menyelamatkan manusia berdosa dari dosa (berkat rohani ) melainkan juga ingin memberkati dengan segala berkat jasmani yang tersedia. Bahkan para pengikut teologi kemakmuran percaya jika didoakan dengan iman maka Tuhan akan mengirimkan segala berkat jasmani dari Sorga kepada anak-anakNya. Bagi  para penganut teologi kemakmuran, keselamatan adalah sebuah paket lengkap yang Tuhan berikan, dimana didalamnya berisi berbagai macam berkat yang Tuhan sudah sediakan, termasuk berkat rohani dan berkat jasmani.

Keselamatan adalah sebuah usaha Tuhan untuk mengembalikan manusia kepada rencana/rancangan awal Allah yang dipahami sebagai usaha Tuhan untuk mengembalikan manusia seperti kehidupan manusia di taman eden yang tidak mengalami penyakit, hidup dalam kelimpahan dan senantiasa diberkati Tuhan. Mereka percaya jika orang yang sudah selamat pasti akan menerima semua janji-janji keselamatan tersebut. Penebusan Tuhan Yesus di kayu salib adalah penebusan dari segala kutuk dosa (kemiskinan,sakit penyakit dan penderitaan). Bagi mereka segala kutuk dosa sudah selesai di kayu salib. Pada saat Tuhan Yesus berkata “ sudah selesai” berarti semua kutuk dosa juga sudah selesai dan orang percaya menerima berkat baru yang Tuhan sudah sediakan.

4. Terjadi peristiwa pertukaran di kayu salib yaitu kemiskinan menjadi kekayaan, sakit penyakit menjadi kesembuhan dan kutuk menjadi berkat.

Doktrin ini sering diajarkan dalam khotbah maupun kelas-kelas pendalaman Alkitab di gereja-gereja yang menganut teologi kemakmuran. Bahwa di kayu salib, Tuhan Yesus sudah menanggung dan menggantikan semua penderitaan,sakit penyakit,kemiskinan dengan berkat-berkat baru dari Allah. Tuhan Yesus Kristus dibuat terkutuk untuk membebaskan manusia dari kutuk, Tuhan Yesus Kristus dibuat miskin untuk menjadikan manusia menjadi kaya dan sebagainya. Bagi para pengikut teologi kemakmuran kematian Tuhan Yesus Kristus di kayu salib memiliki nilai yang sangat penting bagi “transformasi kehidupan rohani dan jasmani.” Sehingga mereka percaya jika anak-anak Allah adalah orang-orang yang akan senantiasa hidup dalam kelimpahan dari Tuhan.

Peristiwa pertukaran di kayu salib merupakan peristiwa yang dimana di dalam kemanusiaan Yesus Kristus, maka tubuhnya harus mengalami berbagai macam penderitaan,sakit dan juga kemiskinan untuk membebaskan umatNya dari semua itu. Keyakinan ini membuat para pengikut teologi kemakmuran selalu melakukan “confesion” atau pengakuan iman bahwa Tuhan Yesus Kristus sudah mati di kayu salib dan semua sakit penyakit,kemiskinan dan penderitaan sudah berakhir di kayu salib tersebut.

5. Syarat untuk menerima berkat Tuhan adalah memiliki iman yang sungguh-sungguh (beriman sungguh-sungguh)

Iman merupakan syarat mutlak dalam menerima berkat. Pernyataan ini sering diucapkan oleh para pengkhotbah teologi kemakmuran. Bahkan ayat yang menyatakan jika kamu memiliki iman sebesar biji sesawi maka kamu dapat memindahkan gunung, merupakan salah satu ayat favorit bagi para pengkhotbah teologi kemakmuran. Lalu ayat yang menyatakan jadilah menurut imanmu merupakan ayat yang juga sering diucapkan dan masih banyak ayat-ayat lainnya. Iman mampu “menarik” kuasa Allah dan berkat Allah turun dari Sorga ke bumi. Mereka sering berkata jika Iman mampu melepaskan berkat Allah dari Sorga. Lalu jika ada diantara mereka yang tidak mengalami berkat biasanya mereka diminta untuk tetap percaya (beriman) sambil lebih sungguh-sungguh percaya (beriman) kepada Tuhan. Bahkan ada sebagian dari mereka yang sangat ekstrim mempraktekan doa iman, dengan menolak segala jenis obat-obatan dari dokter jika mereka sedang mengalami sakit. Mereka beranggapan jika meminum obat sama artinya dengan tidak beriman (percaya). Dalam beberapa kasus mereka juga melakukan doa sambil melakukan confesion (pengakuan) dan juga imaginasi (visualisasi) untuk menerima berkat tersebut. Dengan pengakuan dan juga imaginasi maka doa mereka akan menjadi spesifik. Mereka percaya jika Tuhan akan memberikan berkat secara spesifik juga,sehingga perlu berdoa secara spesifik.Hal ini diajarkan oleh Paul (David ) Yonggi Cho dalam bukunya yang berjudul dimensi ke empat.

Tuhan juga tidak hanya memberikan berkat untuk kebutuhan pokok manusia saja melainkan juga untuk keinginan lainnya. Berkat Tuhan adalah berkat yang besar dan Tuhan ingin menjadikan umatNya menjadi kaya, semakin kaya dan semakin diberkati, sehingga mereka tidak hanya meminta makanan,mimuman dan pakaian melainkan berkat besar lainnya. Keinginan itu yang mendorong para pengikut teologi kemakmuran rajin berdoa kepada Tuhan sambil mengimani bahwa segala doa mereka akan dikabulkan oleh Tuhan. Kadang tidak hanya dengan doa maka disertai juga dengan tindakan iman lainnya atau sering disebut dengan tindakan profetik agar doa yang dipanjatkan itu segera dikabulkan oleh Tuhan. Tindakan iman atau tindakan profetik beragam bentuknya bergantung kepada “pimpinan Tuhan” yang diyakini lewat suara Tuhan yang berbicara kepada anak-anakNya.

6. Apa yang kamu tabur itu yang kamu tuai. Untuk menerima berkat /kelimpahan maka perlu menabur dengan memberikan persembahan persepuluhan.

Hukum tabur tuai merupakan hukum yang utama,dimana berkat kelimpahan akan terjadi jika umat Tuhan terlebih dahulu menabur untuk Tuhan melalui persembahan dan persepuluhan. Persembahan persepuluhan merupakan syarat mutlak untuk diberkati secara finansial (keuangan) sebab ketika anak-anak Allah memberikan persembahan persepuluhan maka tingkap-tingkap berkat Tuhan akan dibuka dan berkat itu akan dicurahkan (Maleakhi 3 :9-10).Tidak sedikit para pengkhotbah teologi kemakmuran yang menggunakan Maleakhi 3:9-10 sebagai “senjata” agar jemaat memberikan persepuluhan kepada gereja atau hamba Tuhan dengan dalil bahwa ketika mereka memberi maka hidup mereka pasti diberkati oleh Tuhan. Bagi jemaat yang tidak memberikan persepuluhan maka ayat tersebut juga dijadikan “senjata” untuk mengintimidasi jemaat agar memberikan persepuluhan dengan ancaman jika mereka tidak memberikan persepuluhan maka  akan kena kutuk. Sehingga motivasi utama jemaat dalam memberikan persepuluhan adalah supaya menerima berkat Tuhan.

Kesimpulan

Teologi kemakmuran merupakan sebuah teologi yang mengajarkan jika kemakmuran merupakan ukuran eksternal dari Tuhan untuk manusia yang berkenan kepada Dia. Kemakmuran yang dimaksud adalah berkat dari Tuhan yaitu kelimpahan dalam bentuk materi seperti kekayaan, bebas dari sakit penyakit serta tidak mengalami penderitaan. Kepercayaan dalam teologi kemakmuran  memandang bahwa Allah adalah pribadi yang baik dan maha kasih sehingga Allah ingin semua anak-anakNya hidup dalam keadaan makmur dan sehat.

Teologi kemakmuran telah merambah sampai ke seluruh dunia dan menjadikan teologi ini bersifat humanis bahkan menjadi materialis dan hedonis. Jemaat berlomba-lomba mendapatkan berkat Tuhan dengan hidup dalam iman dan ketaatan kepada Tuhan. Pesan kemakmuran menyebabkan motivasi jemaat dalam memberi persepuluhan  hanya berorientasi kepada keinginan menerima berkat dari Tuhan.

Referensi:

Cho, P. Y. (1988).  Mengapa saya harus menderita. Jakarta: Immanuel.

Hagin, K.(1988). Ditebus dari kemiskinan, penyakit, kematian. Jakarta: Immanuel.

Handoko, Y. T. (2007). Theologia kemakmuran. Tenggilis Mejoy: Sekolah Alkitab Malam GKKA.

Herlianto. (1993). Teologi sukses. Jakarta: BPK Gunung Mulia.

Smith, D. L. (2000). A handbook of contemporary Theology . Grand Rapid: Baker Books.


[1] David L Smith, A Handbook of Contemporary Theology, ( Grand Rapid : Baker Books, 2000), hlm.179

[2] Yakub Tri Handoko,”Teologi Kemakmuran”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Please Contact STT LETS...!