Menjaga Tubuh adalah Ibadah

74 views

Menjaga Tubuh adalah Ibadah

Sebuah Tindakan dalam Menghadapi Pendemik Covid-19

Oleh

Eduward Purba

STT Pelita Bangsa

Di tengah pandemik Covid-19 yang melanda Indonesia, himbauan untuk beribadah dirumah sempat menjadi polemik. Hal ini terjadi, karena himbauan itu ditinjau dari variasi teologi masing-masing yang bermuara pada menolak dan menerima. Dari pihak keyakinan Kristen, indikator dasar menolak himbauan itu adalah “klaim iman” yang diterjemahkan bahwa hidup dan mati ada pada Tuhan, Covid-19 dapat dikalahkan atau disembuhkan karena Tuhan Yesus-lah sumber mujizat Sehingga apapun tidak bisa menghalangi ibadah hari Minggu di dalam gedung Gereja dan harus dilaksanakan.

Mengatasnamakan “klaim iman” dalam melaksanakan ibadah di tengah wabah Covid-19 dengan tidak memperdulikan dampak ekstrim pada kesehatan tubuh dan memiliki peluang kepada kematian tubuh tidaklah bijak dan bukan tindakan yang Alkitabiah. Tubuh merupakan karya cipta TUHAN yang sungguh amat baik (Kej. 1:31), sehingga tubuh haruslah dijaga karena di dalam tubuh inilah terdapat roh (ruakh) yang dihembuskan TUHAN. Roma 12:1 menarik untuk direnungkan dan dikaji: Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati. Tubuh di dalam teks ini menggunakan kata sw,mata (somata) dari kata sw/ma (soma) yang artinya body (tubuh). Tubuh (soma) mencakup semua organ dan roh yang ada padanya. Sehingga mempersembahkan tubuh kepada Tuhan mencakup semua yang ada pada tubuh itu sendiri. Dalam mempersembahkan tubuh, haruslah tubuh yang hidup bukan tubuh yang mati seperti persembahan kurban binatang di dalam Perjanjian Lama.

Kata mempersembahkan di dalam teks ini menggunakan kata parasth/sai (parastesai)  oleh Thomas Van Den End merupakan istilah yang dikaitkan dengan peribadatan dari lingkungan Bait Tuhan: mempersembahkan (kurban). Di dalam Roma 6: 13, 16, 19 kata ini juga dipakai tetapi berkaitan dengan suasana lingkungan istana: menyediakan atau mengabdi kepada raja. Dari kedua penggunaan kata ini memiliki wawasan dasar yang sama yaitu penyerahan diri secara total.[1] Kata mempersembahkan dalam Roma 12:1 sangat tepat dikaitkan dengan ibadah Perjanjian Lama. Relasi persembahan dan kurban banyak sekali rujukannya di dalam Perjanjian Lama, baik dalam kehidupan bangsa Israel maupun dalam kehidupan tiap-tiap orang. Beberapa kriteria kurban persembahan di dalam Perjanjian Lama sebagaimana ditulis Herbert Wolf yaitu:

  1. Kurban harus sehat, tidak cacat karena TUHAN menuntut yang terbaik.
  2. Orang yang membawa persembahan meletakkan tangannya di atas kepala binatang kurban itu sebagai tanda bahwa binatang itu mati sebagai penggantinya.
  3. Orang yang mempersembahkan kurban itu menyembelih binatang itu dekat mezbah kurban bakaran di pelataran itu. Tanpa kematian binatang kurban itu, persembahan tidak akan diterima.
  4. Imam memercikkan sedikit darah kurban pada mezbah kurban itu sendiri atau pada mezbah ukupan di dalam Tempat Kudus.
  5. Tergantung pada jenis kurban, imam membakar semuanya atau sebahagian dari kurban itu dan lemak bagian yang terbaik dari kurban akan selalu dibakar.[2]

Hanya saja para nabi kadangkala memberikan kesan seolah-olah kurban-kurban tidak berguna (bdg. Yes.1:11-14). Hal ini mengajarkan bahwa ritual hanya untuk kepentingan ritual saja merupakan tindakan yang tidak benar (bdg. 1Sam. 15:22). Mempersembahkan kurban haruslah dengan sifat bertobat dan dengan hati yang penuh rasa syukur dan pujian (bdg. Maz. 4:6). Pokok utama dari Kurban persembahan (qorban) sesuai dengan asal kata kerjanya yaitu: membawa dekat. Ketika orang membawa kurbannya maka membawa orang tersebut mendekati TUHAN dengan harapan agar dosanya diampuni sehingga terjadi pendamaian dengan TUHAN dan inilah tujuan orang menyembah Dia. Keberdosaan manusia selalu menyulitkannya untuk mendekati TUHAN maka diperlukan kurban untuk memenuhi tuntutan murka TUHAN.

Di dalam Roma 12:1, yang diawali dengan frase “demi kemurahan Allah” sebenarnya menunjukkan kasih TUHAN kepada manusia di dalam Kristus (Rom.1-11) di mana syarat kurban sudah dipenuhi Yesus Kristus dan tidak ada lagi tuntutan murka Tuhan. Tuhan Yesus Kristus sudah memberikan kemurahan dalam upaya manusia mendekati Tuhan. Maka tindakan orang percaya dalam mendekatkan diri kepada Tuhan adalah dengan “mempersembahkan tubuh (yang sudah dilayakkan) sebagai persembahan yang hidup, kudus (khusus) dan berkenaan kepada Tuhan”. Semua unsur yaitu hidup, kudus dan berkenaan sudah dipenuhi oleh Tuhan Yesus Kristus. Hidup (zw/san) yaitu hidup alami (bdg. Rom.7:1), kudus (a`gi,an) adalah sifat suci yang harus dihasilkan oleh tubuh dan menjadi tujuannya, berkenan (euva,reston) kepada Tuhan yaitu menyenangkan dan diterima oleh Tuhan sebagai kurban yang sudah memenuhi kriteria. Tubuh yang mati adalah tubuh yang bersifat dosa dan tidak layak sebagai persembahan. Sehingga persembahan yang hidup itu yaitu tubuh kita harus dijaga dan bukan merusaknya.

Menarik untuk dipahami bahwa mempersembahkan tubuh dengan cara menjaganya dapat dikatakan sebagai “ibadah yang sejati”, oleh Dave Hagelberg mengartikannya “ibadahmu yang masuk akal”.[3] Jika di dalam Perjanjian Lama, ibadah dilakukan di Bait Tuhan tetapi sekarang ibadah dapat disetiap tempat dengan tubuh yang dipersembahkan ini. Oleh karena itu kehadiran kita di bumi yang terungkap dalam perbuatan, pikiran, perkataan merupakan ibadah yang masuk akal atau logis. Jikalau ibadah dirumah dalam kondisi epidemik Covid-19 guna menjaga tubuh tetap sehat dan agar tidak menularkan  Covid-19 bukanlah sebuah tindakan tanpa iman. Tetapi hal ini justru merupakan perwujudan iman karena Alkitab menjelaskan bahwa ibadah tidak terbatas di dalam Gereja saja. Sebab iman bukan hanya dipikiran tetapi iman diwujudnyatakan dalam perbuatan sebab iman tanpa perbuatan adalah kosong (Yak.2:26).

Mari jaga tubuh kita yang sudah dilayakkan Tuhan ini dan menjaga tubuh orang lain sebagai ciptaan Tuhan agar tidak menularkan atau tertular Covid-19. Sebab ini merupakan tanggungjawab setiap orang percaya dalam menghargai ciptaan dan karya keselamatan Tuhan. Jangan merusaknya dengan alasan-alasan yang terkesan teologis padahal sangat bertentangan dengan prinsip Alkitab ini. Belajarlah dari kasus-kasus yang sudah terjadi seperti di Korea Selatan 19 Februari 2020 dan di Lembang, Bandung di mana terjadi penularan Covid-19 justru dalam ibadah dan pertemuan ibadah Kristen. Tetap jaga diri dengan social distancing atau physical distancing dan beribadahlah di rumah agar penularan dapat dicegah. Ingatlah beribadah di rumah tidak menyalahi prinsip kaidah Alkitab atau teologi sebab kehadiran kita sebagai tubuh yang hidup dalam ibadah tidak ditentukan oleh tempat tetapi sifat pertobatan dan mendekatkan diri kepada Tuhan Yesus. Amin.

Referensi:

Dave, H. (2004). Tafsiran roma. Bandung: Kalam Hidup.

Herbert, W. (1998). Pengenalan Pentateukh. Malang: Gandum Mas.

Th. Van Den End. (2003). Tafsiran Alkitab surat roma. Jakarta: BPK Gunung Mulia.


[1] Th. Van Den End, Tafsiran Alkitab Surat Roma , (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2003), hal. 652-653

[2] Herbert Wolf, Pengenalan Pentateukh (Malang: Gandum Mas, 1998), hal. 227

[3] Dave Hagelberg, Tafsiran Roma (Bandung: Kalam Hidup, 2004), hal. 236

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Please Contact STT LETS...!