Pemulihan Spiritual Sebagai Reaksi Teologis Terhadap Pandemi Virus Corona

101 views

Pemulihan Spiritual Sebagai Reaksi Teologis Terhadap Pandemi Virus Corona

Oleh

Christar Rumbay dan Parulian

STT Pelita Bangsa

Dimensi sosial dunia saat ini sedang dalam keadaan yang kritis setelah dikejutkan dengan covid 19 atau yang lebih dikenal dengan istilah virus corona. Berbagai sekmentasi kehidupan sosial turut merasakan dampak secara langsung dari merebaknya virus ini. Pemerintah dan gereja mengambil kebijakan penting dalam mendukung pemulihan sosial ini. Beberapa langkah praktis telah diambil oleh pemerintah dan memiliki konsekuensi langsung dengan keberadaan gereja. Sebagai contoh, anjuran untuk tidak melakukan kegiatan ibadah dengan mengumpulkan orang banyak. Hal ini memunculkan perbincangan public khususnya kaum rohaniawan. Dukungan dan kecaman ramai di diskusi-diskusi rohani dan akademik, mempertentangkan antara iman dan virus corona, mencocokan soteriologi dan kekacauan sosial yang ada , dan banyak dialog lain berkembang sehubungan dengan fenomena sosial ini.

Reaksi orang Kristen pada umumnya dalam menyikapi penyebaran virus corona adalah dengan menggunakan metode tafsir mistik, menghubungkannya dengan pelajaran rohani dimana ada rencana yang indah dari Tuhan melalui kejadian ini (Yer. 29:11). Ucapan syukur merupakan reaksi reguler dan dijadikan pelampiasan teologis terhadap kengerian wabah penyakit ini, lebih lanjut, beranggapan bahwa Allah memiliki peran dan tetap mengintervensi semua kejadian dimuka bumi ini, namun tetap dengan suatu tujua kebaikan (Rom. 8:28). Tetapi tentunya, harus ada pertanggungjawaban teologis dari para gembala, pengajar, akademis dan kaum awam. Penjelasan, ataupun alternative teologis patut diberikan yang dapat menjadi pegangan kuat orang-orang Kristen dalam menyikapi keadaan ini.  

Situasi saat ini sehubungan dengan pandemic virus corona sebenarnya dapat dimanfaatkan oleh umat Kristiani sebagai kesempatan untuk merefleksikan kembali kehidupan rohaninya. Melakukan intropeksi, belajar kembali sifat dasar manusia, mengingat kembali tujuan hidup dan essensi dari kehidupan itu sendiri.[1] Perenungan seperti ini membuka kembali jalan bagi kuasa Ilahi agar dapat mengkomunikasikan intensinya kepada manusia dimana didalam doa manusia cenderung lebih banyak berbicara kepada Tuhan dan kurang mendengarkan suara Tuhan. Selain itu, kegiatan perenungan diri ini membantu pemulihan kerohanian yang terlanjur sibuk dengan padatnya intensitas interaksi fisik umat dalam bungkusan kegiatan keagamaan. Pembatasan interaksi sosial sebenarnya menolong umat Tuhan, memberikan keleluasaan dalam merenungkan berkat-berkat Tuhan di masa lampau, dan janji-janji perlindungan Tuhan dimasa ini, dan nubuatan-nubuatan tentang dunia dimasa yang akan datang.

Perenungan rohani menempati nilai yang tinggi dalam Alkitab, menolong menyegarkan kepenatan duniawi dalam pikiran manusia, dan menempatkan jiwa dalam keadaan yang lebih tenang.[2] Itulah sebabnya Alkitab mencatat bahwa hati yang benar sepatutnya merenungkan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan situasi tidak menentu dunia saat ini (Ams. 15:28). Lebih jauh, sesungguhnya perenungan atau meditasi mengandung makna mengisolasi diri dari keramaian publik.[3] Allah mau terhubung dengan manusia mengubah hati kita  sehingga dapat lebih dalam memahami rencana alam semesta, hal ini dapat terjadi lewat latihan rohani, meditasi dan perenungan pribadi, tanpa melibatkan orang lain.[4] Dengan demikian, sebenarnya, perenungan rohani yang dilakukan secara pribadi dapat memberikan kontribusi positif untuk bangsa dan kerohanian masing-masing individu. Pemerintah akan sangat terbantu karena meditasi sifatnya tidak berkelompok sehingga tidak ada interaksi fisik atau sosial tercipta. Disisi lain, meditasi menolong setiap orang Kristen untuk lebih memahami makna kehidupan rohaninya.

Dengan demikian, refleksi teologis lewat perenungan dan mediatasi menawarkan keuntungan untuk pemulihan rohani atau spiritual dan kebaikan untuk meredam fenomena virus corona. Orang Kristen saat ini sudah sepatutnya mendukung program pemerintah dalam menekan pandemi covid 19. Disisi lain, bisa mengambil keuntungan karena tersedia waktu yang cukup untuk merevitalisasi spiritualitas yang mungkin sudah kendor karena hiruk pikuk dan kesibukan duniawi ataupun kegiatan rohani yang menuntut interaksi fisik. Harapan besar adalah, melalui situasi sosial saat ini di Indonesia, kita masih tetap bisa mengambil pelajaran rohani untuk iman, dan memberikan kontribusi nyata bagi Negara.

Referensi:

Cahyono, S. B. (1998). Refleksi dan transformasi diri. Jakarta: Gramedia Pustaka.

https://www.jw.org/en/library/magazines/g201405/meditation/, diakses 2 April 2020.

Johnson, Jan, 2019. Study and Meditation. Illinois: Intervarsity Press.

Kaplan, A. (1978). Meditation and the Bible. York Beach, Maine: Samuel Weiser, Inc.


[1] Suharjo B. Cahyono, Refleksi dan Transformasi Diri (Jakarta: Gramedia Pustaka, 1998), 36.

[2] https://www.jw.org/en/library/magazines/g201405/meditation/, diakses 2 April 2020.

[3] Aryeh Kaplan, Meditation and the Bible (York Beach, Maine: Samuel Weiser, Inc, 1978), 1.

[4] Jan Johnson, Study and Meditation (Illinois: Intervarsity Press, 2019), 5.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Please Contact STT LETS...!