PENGAJARAN KRISTIANI YANG MENGAKAR KUAT DAN EFEKTIF

PENGAJARAN KRISTIANI YANG MENGAKAR KUAT DAN EFEKTIF

Oleh: Terry Wuisam ST. M.Th

Dosen Tetap STT LETS BEKASI

Pada umumnya jawaban yang diberikan terhadap pertanyaan tentang apa tujuan pengajaran Kristiani adalah agar murid mengenal Tuhan, sehingga mereka dapat percaya kepada-Nya dan hidup sesuai dengan firman-Nya. Kemudian, tolok ukur bagi keberhasilan pengajaran dilihat dari perubahan lahiriah yang terjadi pada diri si murid. Jika murid yang dulunya malas datang ke gereja /ibadah sekarang menjadi sangat rajin, bahkan terlibat dalam pelayanan, maka ia dikategorikan ke dalam kumpulan orang-orang yang telah diubahkan oleh Tuhan dan pengajaran telah berhasil pada dirinya.

Namun, bagaimana kita memberi penjelasan jika pada suatu hari murid ini ketahuan telah melakukan tindakan yang melanggar hukum? Kasus demikian banyak terjadi dalam kehidupan orang Kristen. Pembina rohani tidak habis mengerti mengapa tindakan tersebut dilakukan oleh murid yang notabene telah diubahkan ini. Bukankah ia tahu apa yang dikatakan oleh firman Tuhan mengenai hal tersebut, tetapi mengapa ia tetap melakukannya? Tidakkah ia sadar apa yang dilakukannya akan mencoreng nama Tuhan? Itu adalah pertanyaan-pertanyaan retorik yang mencerminkan ketidakmengertian hamba Tuhan, pembimbing rohani, guru Sekolah Minggu, guru di sekolah atas tindakan yang dilakukan oleh murid-murid.

Persoalan ini berawal dari pengertian tentang mengenal Tuhan itu sendiri. Mengenal Tuhan tidak sama artinya dengan mengenal tentang Tuhan.   J. I. Packer memaparkan dua kekeliruan yang acap kali dimengerti oleh orang Kristen sebagai kehidupan yang mengenal Tuhan.

Pertama, mengenal Tuhan acap kali disejajarkan dengan ketertarikan seseorang terhadap teologi dan kemampuannya untuk memberikan pendapat ataupun mendidik orang lain dengan pengetahuan Alkitab dan teologi yang benar. Memiliki pengetahuan Alkitab dan teologi memang penting, namun pemahaman tersebut tidak dapat disejajarkan dengan mengenal Tuhan.  Packer menulis, “We may know as much about God as Calvin knew . . . and yet all the time (unlike Calvin, may I say) we may hardly know God at all.”

Kedua, mengenal Tuhan juga tidak dapat disejajarkan dengan memiliki pengetahuan tentang hidup yang saleh. Menurutnya, dalam era sekarang ini mudah bagi seseorang untuk tahu bagaimana menjadi orang Kristen yang baik melalui buku, khotbah ataupun teman-teman, namun tidak berarti orang tersebut mengenal Tuhan.

Jika kemampuan berteologi dan kehidupan yang saleh tidak sama dengan mengenal Tuhan, maka seperti bagaimanakah mengenal Tuhan itu? Kata kunci dari mengenal Tuhan adalah relasi. Tuhan Yesus dalam salah satu perumpamaan-Nya mengatakan, “Akulah gembala yang baik dan Aku mengenal domba-domba-Ku dan domba-domba-Ku mengenal Aku” (Yoh. 10:14). Melalui perumpamaan ini Tuhan Yesus ingin menunjukkan hubungan yang erat antara Dia dengan orang percaya.

Contoh konkret dari orang yang mengenal Tuhan adalah Henokh. Henokh berkenan di hadapan Allah bukan semata-mata karena perilakunya yang saleh. Alkitab mencatat bahwa Henokh hidup bergaul dengan Allah (Kej. 5:24a). Secara harafiah kata “bergaul” dapat diterjemahkan “berjalan dengan.” Henokh berjalan dengan Allah menunjukkan adanya suatu relasi yang intim. Seseorang bisa tahu tentang Tuhan tanpa pernah mempunyai hubungan yang dekat dengan Tuhan, demikian juga dengan kesalehan. Kesalehan dapat terlihat pada penampakan lahiriah seseorang, namun belum tentu ia mempunyai relasi yang intim dengan Tuhan.

Relasi yang intim dengan Tuhan dimulai ketika seseorang menerima Tuhan Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamatnya. Paulus adalah seorang yang mempunyai hubungan yang intim dengan Tuhan. Hidupnya yang sedemikian dimulai sejak perjumpaannya dengan Tuhan secara pribadi di jalan menuju ke Damsyik (Kis. 9:3-5). Perjumpaannya dengan Tuhan tidak saja menjadi suatu momentum dalam kehidupannya, akan tetapi menjadi awal dari membina suatu hubungan yang semakin dekat dan intim dengan Tuhan. Mengenal Tuhan menjadi prioritas utama di dalam hidupnya (Flp. 3:8, 10). Hal inilah yang kemudian mengubahkan dirinya.

Perubahan total seperti yang terjadi dalam kehidupan Paulus itulah yang ingin dicapai oleh para guru terhadap murid-muridnya. Namun perubahan ini tidak akan pernah terjadi dengan benar selama orang tersebut belum mempunyai hubungan yang intim dengan Tuhan. Hubungan yang dekat dan bersifat pribadi dengan Tuhan akan membawa kedewasaan rohani pada diri orang percaya. Kedewasaan rohani inilah yang kemudian dimanifestasikan dalam perubahan hidup. Perubahan hidup yang sedemikian bukan semata-mata perubahan lahiriah, melainkan perubahan yang berasal dari dalam diri seseorang.   Kata “morphe” di Roma 12:2 dan 2 Korintus 3:18 mempunyai pengertian adanya perubahan radikal pada keberadaan manusia yang paling dalam sehingga ia tidak lagi sama seperti sebelumnya. Perubahan radikal ini tidak dapat dilakukan oleh manusia hanya dengan pemikiran dan caranya sendiri, tetapi harus ada relasi dan campur tangan Tuhan di dalam proses ini.

Berbicara tentang efektivitas pengajaran yang kuat tidaklah dapat bertumpu pada kemampuan guru semata. Tuhan Yesus pada waktu memberitakan datangnya Roh Kudus menyatakan, “Tetapi apabila Ia datang, yaitu Roh Kebenaran, Ia akan memimpin kamu ke dalam seluruh kebenaran” (Yoh. 16:13a). Kebenaran tidak dapat dimiliki oleh guru dengan bergantung pada keahliannya meneliti atau menafsirkan Alkitab. Jika guru saja tidak mempunyai kemampuan yang sedemikian, apalagi muridnya. Paling tidak ada tiga hal utama yang dilakukan oleh Roh Kudus dalam menuntun guru dan murid ke dalam kebenaran. Pertama, Roh Kuduslah yang memberi kesaksian bahwa benar Alkitab adalah firman Tuhan; kedua, Roh Kudus melalui Alkitab memberi kesaksian dan memuliakan Tuhan Yesus; ketiga, Roh Kudus juga yang memberikan pengertian kontemporer atas berita yang tertulis dalam Alkitab.

Efektivitas juga tidak saja bergantung pada kemampuan menyerap kebenaran, tetapi juga kondisi lingkungan yang kondusif bagi berlangsungnya kegiatan pembelajaran. Lingkungan kondusif yang dimaksud bukan semata-mata pada kondisi lahiriah dari tempat pembelajaran, akan tetapi atmosfer yang aman bagi terjalinnya keterbukaan di antara individu yang terlibat dalam pembelajaran. Kondisi demikian tidak lepas dari pekerjaan Roh Kudus. Wilhoit menegaskannya: “The Holy Spirit, the transformer of the church, works to make it the kind of community where people can rid themselves of their slaving habits, their crushing doubts, and their nagging worries.”

Peran guru dalam proses pembelajaran adalah “to create a positive regard for biblical concepts.”  Pandangan yang positif tercipta ketika murid dapat menikmati proses pembelajaran tersebut. Tanpa mengabaikan peranan Roh Kudus, seorang guru perlu memperlengkapi dirinya sedemikian rupa sehingga menarik perhatian murid untuk berperan dalam proses belajar mengajar. Pelbagai macam metode mengajar yang kreatif, wacana mengenai perkembangan proses belajar mengajar, pengenalan akan kondisi dan kebutuhan murid, perlengkapan-perlengkapan mengajar yang menarik, penataan kelas yang indah dan pernik-pernik lainnya merupakan alat bantu yang berguna di tangan seorang guru dalam menghasilkan rancangan pengajaran yang akan menarik perhatian murid.

Peran guru berikutnya adalah menjadi contoh hidup dari apa yang ia ajarkan. Peran ini adalah peran penting dalam menstimulir murid untuk melihat kepentingan dari pengajaran itu sendiri. Contoh yang hidup akan memberikan penegasan pada arti pelajaran. Arti mengenal Tuhan akan lebih nyata ketika seorang guru memberikan teladan hidup yang menunjukkan hubungannya yang intim dengan Tuhan. Seorang anak balita belajar lebih banyak dari meniru apa yang dilakukan gurunya. Formula ini tidak saja berlaku pada anak-anak, namun juga pada orang dewasa. Dalam nasihatnya kepada Timotius, Paulus tidak saja mengingatkan Timotius kepada apa yang ia ajarkan, tetapi juga bagaimana ia menghidupi dirinya sedemikian rupa agar berpadanan dengan apa yang ia katakan (2Tim. 3:10). Contoh dari kehidupannya itulah yang menjadikannya seorang guru yang efektif bagi Timotius.

Referensi:

____  Alkitab Terj. Baru – LAI, 2004

____ The Christian Educator’s Handbook on Spiritual Formation (ed. Kenneth O. Gangel & James C. Wilhoit; Grand Rapids: Baker, 1994)

____ Christian Education: Foundations for the Future (ed. Robert E. Clark, Lin Johnson, Allyn K. Sloat; Chicago: Moody, 1991)

____ The Role of the Holy Spirit in Christian Teaching (ed. K. O. Gangel & H. Hendricks; Grand Rapids: Baker, 1988)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Please Contact STT LETS...!