PUJIAN DAN PENYEMBAHAN

75 views
PUJIAN DAN PENYEMBAHAN
Di tulis oleh:
Dr. Yandry K Manoppo.,M.Th
Dosen tetap STT LETS BEKASI

PENDAHULUAN

       Pujian dan penyembahan mampu membuat hati Allah runtuh dan mau menghampiri orang berdosa. Dan bukan saja menghampiri, tapi tangan-NYA terbuka dan siap menjamah orang yang paling berdosa sekalipun. Seperti peristiwa Daud yang tangannya penuh dengan darah, membunuh suami orang lain demi hanya mendapatkan istrinya, namun Daud bisa diterima oleh Allah. Dengan perkataan lain dapat disampaikan bahwa Allah telah menutup seluruh pekat kelam Daud, melalui pujian dan penyembahan yang dilakukannya. Bukan itu saja, bahkan Daud diterima dengan tangan terbuka, terbukti dari janji yang disampaikan Allah kepada dirinya bahwa kerajaannya tidak akan diambil dan akan tetap kokoh. Lebih dari pada itu, dari keturunannya akan lahir Juruselamat. Ini membuktikan bahwa pujian dan penyembahan memiliki kuasa yang dahsyat masuk sampai ke ujung jantungnya Allah. Oleh sebab itu kita jangan menganggap remeh pujian dan penyembahan.

PEMBAHASAN

A. PUJIAN

      Kata pujian berasal dari kata dasar puji dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), adalah merupakan pujian yang luar biasa (atas kepandaian, jasa dan sebagainya), pernyataan untuk memuji seseorang (sesuatu) dan memuliakan Tuhan. Dengan demikian pujian dapat diartikan sebagai bentuk pernyataan dan penghargaan yang tulus akan kebaikan sosok pribadi tertentu. Dalam hal ini jika seseorang memuji Tuhan maka sebenarnya dirinya sedang menyatakan penghargaan yang tulus dari hatinya yang terdalam yang lahir dari kekaguman terhadap kebaikan Tuhan yang ia rasakan. Kekaguman ini menimbulkan suatu nyanyian yang juga lahir dari hati yang terdalam sebagai bentuk ekspresi yang indah dari dirinya.

Oleh karena itu pujian yang dinaikkan haruslah keluar secara otomatis dari mulut bibir orang yang menaikkan pujian. Apa maksudnya otomatis disini? Maksudnya adalah dengan pujian yang keluar dari mulut bibir seorang yang memuji adalah pujian sudah dikuasai liriknya dengan baik. Artinya lirik pujian tersebut sudah dihafal dengan benar. Menghafal lirik lagu merupakan hal yang penting agar ketika menyanyikan, orang tersebut dapat mengekspresikan lirik yang dikumandangkan dengan bahasa tubuh yang selaras dengan lirik tersebut. Dan ekspresi yang dikehendaki bukanlah yang asal-asalan, tapi ekspresi yang lahir dari hati yang paling dalam yang didasarkan atas kejujuran dan ketulusan.

Bilamana memuji Tuhan dilakukan?

  • Memuji Tuhan haruslah dilakukan sejak orang percaya mengetahui akan kebenaran. Belajar dari teladan Daud setiap hari ada pujian. Tujuh kali dalam sehari aku memuji-muji Engkau, karena hukum-hukum-Mu yang adil. (Mazmur 119:164)
  • Membiasakan diri untuk memuji, dimulai dari diri sendiri dan tanpa adanya rasa paksaan dan juga dimulai bukan karena terpaksa. Pujian harus dimulai atas dasar kesadaran bahwa seseorang perlu memuji karena ia memerlukan pertolongan Allah dalam kehidupannya. Dengan demikian maka pujian yang dilakukan akan lahir dari kejujuran dan ketulusan pribadi sang pemuji. Sebagaimana yang dikatakan Daud dan Maria dalam Firman Tuhan : Mazmur 9:1b, 2 : 1b.Aku mau bersyukur kepada TUHAN dengan segenap hatiku, aku mau menceritakan segala perbuatan-Mu yang ajaib; 2. aku mau bersukacita dan bersukaria karena Engkau, bermazmur bagi nama-Mu, ya Mahatinggi, Lukas 1:46-47 :46.Lalu kata Maria: “Jiwaku memuliakan Tuhan, 47.dan hatiku bergembira karena Allah, Juruselamatku,
  • Pujian dapat dilakukan setiap waktu, baik dalam suasana hati senang maupun suasana hati yang penuh dengan berbagai pergumulan baik ringan maupun berat. Artinya pujian yang dikumandangkan harusnya tidak tersandera  atau terbelenggu dengan suasana hati yang sedang berkecamuk saat pujian akan atau sedang dinaikkan.

Dimana harus memuji Allah?

Memuji Allah tidak ada batasannya, baik dari sisi tempat, waktu bahkan frekuensinya. Yang terpenting dalam memuji Allah, hati kita harus penuh dengan ketulusan dan kejujuran.

B. PENYEMBAHAN

Kata penyembahan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) memberikan sinonim sebagai pemujaan, memberikan arti yaitu cara atau perbuatan. Dan kata dasar penyembahan adalah sembah, artinya pertama sebagai pernyataan hormat dan khidmat, kedua perkataan yang ditujukan kepada orang yang dimuliakan. Dengan perkataan lain penyembahan dapat dipahami sebagai pernyataan hormat baik dalam bentuk kata-kata ataupun perbuatan lengkap dengan bahasa tubuh yang mengikutinya yang pada dasarnya menunjukkan sikap hormat dengan penuh kekhidmatan kepada pribadi yang dimuliakan. Perkataan hormat tersebut dapat berbentuk pemujaan, pengagungan, pengakuan, penghargaan, bahkan menyatakan kasih. Itu sebabnya bila disejajarkan dengan pujian, maka penyembahan memiliki nilai yang jauh lebih tinggi, karena di dalamnya sudah mencakup arti pujian itu sendiri.

Ekspresi Dan Tindakan Dalam Menyembah Tuhan

Penyembahan haruslah dilakukan atas kehendak kita sendiri, sebab Allah tidak minta seseorang untuk menyembah diri-NYA. Yang pasti Allah harus disembah, sementara manusia yang harus berinisiatif dan merasakan betapa kita perlu dirinya menyembah Allah. Ada beberapa contoh bapak-bapak iman yang memberikan contoh dalam melakukan penyembahan pada Allah diantaranya seperti :

  • Abraham dalam perjalanannya ke gunung Moria untuk mempersembahkan Ishak sebagai korban, Kata Abraham kepada kedua bujangnya itu: “Tinggallah kamu di sini dengan keledai ini; aku beserta anak ini akan pergi ke sana; kami akan sembahyang, sesudah itu kami kembali kepadamu.”(Kejadian 22:5). Walaupun Abraham tidak mengerti maksud Allah, ia tetap tunduk kepada perintah Allah. Disini terlihat bahwa sekalipun penyembahan itu terasa berat dan merupakan perintah Allah, Abraham tetap taat untuk menyembah Allah dan mengabaikan kehendaknya sendiri. Abraham tidak melakukan penyembahan dengan mengharapkan sesuatu dari hadirat Allah. Ia tetap melakukan perintah Allah yang didasarkan dari kehendaknya sendiri karena ia menyadari bahwa Allah pada dasarnya layak untuk disembah.
  • Ayub, dalam waktu yang cukup singkat segala binatang peliharaannya dirampas, hamba-hambanya dibantai, anak-anaknya mati terbunuh. Demikian parahnya keadaan yang menimpa hidup Ayub, namun ketika hal tersebut menimpa dirinya, yang dilakukannya adalah menyembah, mengakui kekuasaan dan kedaulatan Allah. Maka berdirilah Ayub, lalu mengoyak jubahnya, dan mencukur kepalanya, kemudian sujudlah ia dan menyembah, (Ayub 1:20). Sedangkan hal yang sebenarnya adalah Ayub tidak atau belum mengenal Allah yang sesungguhnya. Hanya dari kata orang saja aku mendengar tentang Engkau, tetapi sekarang mataku sendiri memandang Engkau. (Ayub 42:5). Artinya Ayub belum pernah melihat dan merasakan hadirat Allah. Tetapi reaksi Ayub dengan keadaan yang menimpa dirinya seperti itu, ia langsung sujud dan menyembah Allah.

Keadaan Waktu Menyembah Tuhan

Ketika orang percaya menyembah ditengah jemaat, yang harus dipedomani adalah bukan ingin menghadirkan hadirat Allah, walaupun hadirat Tuhan sangat kita butuhkan. Yang terpenting adalah mengakui kedaulatan Allah. Jadi jika kita orang percaya masih bisa tetap menyembah Allah dengan situasi dan kondisi yang sama seperti dialami Abraham dan Ayub, sekalipun dalam bentuk yang berbeda, maka orang percaya barulah dapat menunjukkan kualitas dirinya sebagai penyembah Allah. Karena hanya dengan masalah dan tekanan akan terlihat posisi hati sesungguhnya sebagai penyembah dan menilai diri sendiri apakah ia mampu sebagai penyembah yang benar.

Seorang penyembah yang benar akan menyembah Allah dalam situasi dan kondisi apapun, karena dengan hal yang demikianlah ia dapat mengoreksi dan memperbaiki keadaaan hidupnya agar menjadi penyembah yang benar. Situasi dan kondisi yang terjadi haruslah menjadi pemicu pertumbuhan sebagai penyembah-penyembah yang benar. Siapa gerangan ada padaku di sorga selain Engkau? Selain Engkau tidak ada yang kuingini di bumi. Sekalipun dagingku dan hatiku habis lenyap, gunung batuku dan bagianku tetaplah Allah selama-lamanya.(Mazmur 73:25-26).

Penyembahan adalah bagian dari perjalanan hidup yang senantiasa harus dibangun dan dipupuk dari waktu ke waktu melalui relasi bersama Allah. Tanpa hal ini, orang percaya akan menjadi orang yang lemah dan akan terus jatuh bangun di kubangan yang sama. Itu sebabnya ada saatnya penyembahan diekspresikan dalam ketenangan, yakni saat dimana penyembahan kita dilakukan dengan pengungkapan melalui kata-kata tapi dengan berdiam diri bahkan air mata, sebagaimana dikatakan dalam Firman Tuhan : Berdiam dirilah di hadapan TUHAN dan nantikanlah Dia; (Mazmur 37:7a), Lihatlah, hai orang-orang yang rendah hati, dan bersukacitalah; kamu yang mencari Allah, biarlah hatimu hidup kembali! (Mazmur 69:32). Merasakan keagungan, kebesaran, dan kemuliaan-NYA hingga terasa kehadiran hadirat Allah dalam penyembahan yang dilakukan.

KESIMPULAN

Kehidupan seorang pemuji dan penyembah adalah sebuah proses bagaimana keintiman hidupnya dengan Allah. Dan hidup dalam kebenaran dan kekudusan merupakan syarat mutlak bagi seorang pemimpin pujian dan penyembahan yang membawa orang lain masuk dalam hadirat Allah. Memelihara kebenaran dan menjaga kekudusan adalah merupakan inisiatif pribadi. Mengapa demikian? Haruslah disadari dan dimengerti oleh semua orang percaya bahwa Allah yang di sembah dalam nama Tuhan Yesus Kristus oleh semua orang percaya yang sudah menikmati anugerah penebusan-NYA, bukanlah Allah yang otoriter. Segala sesuatunya ditentukan dan harus dipatuhi. Tidak seperti itu, DIA adalah Allah yang memberikan kebebasan kepada semua anak-anaknya. Sekalipun demikian di balik kebebasan yang DIA berikan, DIA juga mengingatkan anak-anak-NYA bahwa bila tidak dapat memenuhi standar hidup yang ditentukan, maka orang tersebut harus siap menanggung konsekuensinya.

Itu sebabnya karena kudusnya Allah, setiap pelayan yang mendekat harus atau bahkan wajib menjaga kebenaran dan hidup dalam kekudusan : sebab ada tertulis: Kuduslah kamu, sebab Aku kudus. (1 Petrus 1:16). Satu dan lain, karena Dia adalah Allah yang Maha-tahu akan segalanya. Janganlah kamu selalu berkata sombong, janganlah caci maki keluar dari mulutmu. Karena TUHAN itu Allah yang mahatahu, dan oleh Dia perbuatan-perbuatan diuji. (1 Samuel 2:3)

Tuhan Yesus Memberkati.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Please Contact STT LETS...!