APAKAH GEREJA MELAKSANAKAN APAKAH GEREJA MELAKSANAKAN

14 views

APAKAH GEREJA MELAKSANAKAN

KEADILAN DAN MENCARI KEBENARAN?

 

Ditulis Oleh: Dr. Antonius Natan M.Th

Wakil Ketua I  STT LETS Bekasi

 

I.                   PENDAHULUAN

            “Lintasilah jalan-jalan Yerusalem, lihatlah baik-baik dan camkanlah! Periksalah di tanah-tanah lapanganya apakah kamu dapat menemui seseorang, apakah ada yang melakukan keadilan dan yang mencari kebenaran, maka Aku mau mengampuni kota itu” (Yeremia 5:1)

Setiap kali kita melihat surat kabar maupun telivisi, berita yang ditampilkan membuat kita semakin prihatin, seakan hati nurani, keadilan dan kebenaran telah meninggalkan ibu pertiwi. Hukum mati suri, pemimpin menjadi penguasa, kehebohan terjadi tidak kepada substansi yang sesungguhnya. Masyarakat frustasi, para elit dan mahasiswa seakan bertentangan dengan pemerintah. Tetapi menjadi menarik tatkala kita melihat kajian Prof. Masrukhi seorang Guru Besar ilmu Pendidikan Moral Universitas Negeri Semarang menyatakan ada lima wajah mahasiswa yang nampak dalam realitas diri dan sosial yakni,

  1. Mahasiswa Idealis-konfrontatif, yang cenderung aktif menentang kemapanan, seperti melalui demonstrasi,
  2. Mahasiswa idealis-realistis, lebih kooperatif dalam perjuangan menentang kemapanan,
  3. Mahasiswa oportunis, yang cenderung mendukung pemerintah yang tengah berkuasa dan
  4. Mahasiswa profesional, yakni mereka yang orientasinya kuliah atau belajar. Ke-4 wajah mahasiswa ini ternyata hanya ada 10 persen, selebihnya wajah kelima adalah
  5. Mahasiswa reaktif yang berorientasi pada gaya hidup glamour dan bersenang-senang.

 

II.                PEMBAHASAN

Jumlah mahasiswa terdaftar di Indonesia mencapai 8,3 juta orang pada 2019. Dari jumlah itu, sebanyak 1,8 juta orang menempuh bidang ilmu pendidikan dan 1,7 juta orang pada bidang ilmu ekonomi. Keduanya merupakan yang tertinggi secara keseluruhan. Jika dibandingkan dengan total penduduk Indonesia sebanyak 267 juta jiwa pada tahun 2019.

Maka angkanya kurang lebih 3 persen dari jumlah penduduk, memang merupakan jumlah yang relatif kecil. Bisa dibayangkan jikalau para penerus bangsa, pemimpin masa depan negeri tidak memiliki kepekaan moral, para pemuda asyik dengan kesenangan dan gaya hidup santai. Tentu apa yang terjadi hari-hari ini akan terus berlanjut karena para generasi muda tidak memiliki kemampuan.

Melihat potret buram di atas apakah gereja hanya berdiam dan memperkuat keyakinan dengan iman? Apakah Gereja Melaksanakan Keadilan dan Mencari Kebenaran? Gereja sebagai wadah pembinaan moral dan kawah candradimuka bagi para pemimpin muda harus bekerja lebih keras dan memiliki program pembinaan yang menjawab tantangan zaman. Gereja memikirkan pembangunan iman dan karakter tidak sekadar menjadi pemimpin di lingkungan gereja, melainkan juga dalam dunia sekuler.

Gereja siap menelurkan pemimpin dalam dunia kerja dan dunia politik. Gereja mengutus Umat menjadi kader politik yang berani, tulus dan berintegritas, Gereja tidak bisa lagi alergi terhadap politik. Gereja memang tidak berpolitik, tetapi tatkala Gereja berbicara tentang melakukan keadilan dan mencari kebenaran, Gereja harus menjadi teladan. Kemampuan menjalankan keadilan dan kebenaran hanya ada di dalam Tuhan Yesus Kristus dan orang yang percaya kepadaNya. Kita umat kristen adalah komunitas yang paling bertanggung jawab terhadap pelaksanaan keadilan dan kebenaran menjadi bagian dari gaya hidup di Indonesia.

Para pemuda yang menentukan nasib bangsa ini diawali pada masa Kebangkitan Nasional, Sumpah Pemuda, Hari Kemerdekaan RI, dilanjutkan dalam rangkaian gerakan kepemudaan dari angkatan 66, Malari hingga persitiwa reformasi 1998. Gerakan reformasi dan gaya kritis serta berani dari para pemuda mempertahankan Pancasila, UUD 1945, NKRI dan Bhinneka Tunggal Ika haruslah tetap dipertahankan. Gerakan cinta tanah air tidak tercermin dalam kurikulum pendidikan saat ini.

Oleh sebab itu kembali lagi Gereja dipanggil untuk memenuhi kebutuhan. Gerakan cinta tanah air adalah gerakan berbakti bagi bangsa dan negara. Gereja berperan penting menyadarkan umat untuk bertindak. Gereja harus mampu menciptakan manusia yang takut akan Tuhan dan berani melawan arus dan sistem dalam dunia politik untuk mewujudkan cinta tanah air dalam pembangunan bangsa. Melihat perkembangan penganiayaan terhadap gereja yang berlarut-larut tanpa kepastian hukum, seperti Peristiwa GKI Taman Yasmin sejak tahun 2012, di mana peranan Walikota menerapkan keputusan MA, ditambah lagi sejumlah ketidakadilan yang dialami GPDI Rancaekek-Jatinangor, demikian juga Gereja Kristen Baptis, Jakarta Pos Sepatan, Tangerang Utara, Meski telah beroperasi sejak tahun 2014, baru di tahun 2019 kegiatan gereja GPDI Efata ditentang masyarakat Indragiri Hilir, Riau.

Berbagai rongrongan yang dialami berbagai gereja di berbagai tempat merupakan cermin penolakan terhadap UUD 1945 Pasal 29. Pemerintah seakan tidak berpihak kepada keadilan dan kebenaran. Kembali Gereja dipanggil untuk menyelesaikan sendiri masalahnya. Gereja harus bisa membela haknya. Sama seperti Tuhan kita Yesus kristus, mati di kayu salib demikian pula keadaan gereja zaman ini. Manusia tidak memiliki kemampuan membela Tuhannya, karena seharusnya memang Tuhanlah yang membela gereja.

Kebenaran dalam Alkitab justru membuat umat harus waspada, karena setiap ada penganiayaan berarti ada bara api yang ditempatkan di atas orang-orang jahat. Artinya ada kutuk yang turun kepada komunitas yang menentang gereja. Gereja harus berbesar hati berdoa agar bukan kutuk yang turun melainkan berkat. Karena jikalau kutuk yang turun berarti banyak kesengsaraan terjadi, alam ikut memberontak, alam tidak bersahabat dengan manusia. Gereja berani mengampuni orang yang bersalah. Apakah mudah menjalankannya? Saat ini gereja ditantang berlaku adil dan benar di hadapan Tuhan, tuntutan Tuhan lebih besar kepada gereja.    

Kekuatan yang bisa ubah Bangsa Ini
Presiden terpilih memiliki hak prerogatif menentukan menteri menteri kabinet. Tentu hak ini merupakan senjata yang ampuh dan kekuatan yang mampu mengubah bangsa ini. Di balik itu perlu ditekankan bahwa bukan dengan transaksional politik, kompromi politik akan memunculkan kasus-kasus yang merugikan bangsa. Dalam diskusi para mahasiswa acapkali terdengar bahwa kekuatan yang mengubah bangsa bukannya dengan cara merehuffle menteri melainkan menggantikan pemimpin nomor satu.

Pernyataan itu bisa benar, bisa juga tidak. Sebagai umat kristiani kita tahu bahwa pemerintah ini ada karena izin Tuhan Sang Pencipta, sehingga kita patut menghormati kepemimpinan yang ada dan memiliki kemampuan untuk mengubah bangsa ini. Walaupun kepemimpinan bangsa saat ini terjebak dalam kekusutan yang diciptakan dalam era reformasi, masing-masing pihak menyandera satu dengan yang lain, dan semua yang terkait harus bisa membuka belenggu masing masing.

 

 

III.              PENUTUP

Pertanyaannya, apakah mungkin? Tuhan Yesus memiliki kemampuan membela diriNya karena Dia memang seratus persen manusia dan seratus persen Tuhan. Berbeda dengan pemerintahan kita saat ini, mereka bukan Tuhan yang mampu menentukan jalan dan langkah kelompok atau partainya.

Ada tangan Tuhan Sang Pencipta yang campur tangan dalam setiap sendi kehidupan masyarakat. Gereja memiliki kaitan erat dengan Tuhan Sang Pencipta. Gereja yang didirikan oleh Tuhan sendiri merupakan kepanjangan tangan Tuhan untuk pekerjaannya di bumi, sehingga kemampuan gereja mengubah bangsa ini tidak boleh diragukan. Sekarang saatnya siapa yang terpanggil untuk melakukan perubahan?

BTP, seorang anak Tuhan yang berani melawan sistem dan budaya korupsi, fokus kepemimpinannya adalah  “melakukan keadilan dan mencari kebenaran”. siapa lagi yang berani? Saya menantang teman-teman dari partai yang berlambang salib, beranikah Anda maju tak gentar membela yang benar, walaupun taruhannya nyawa? Gereja segeralah mempersiapkan kader-kader yang berani dan bertanggung jawab agar bangsa Indonesia mengalami transformasi.

Indonesia adalah negara yang besar. Faktanya memang saat ini Amerika Serikat sudah memasuki era kebangkrutan, terbukti dengan terus mencetak dolar tanpa underlying, diikuti Eropa, Timur tengah sebagai Negara minyak dan petrodollar ikut mengalami goncangan akibat pandemi Covid-19 yang berkepanjangan. Tinggal tersisa tiga raksasa ekonomi, China, India dan Indonesia.

China dan India sudah bangun dan melesat dalam pembangunan ekonomi, tinggal Indonesia. Siapa yang akan membangunkan raksasa ekonomi bernama Indonesia? Tentunya bukan pemerintahan yang dililit kasus korupsi dan dikawal oleh kepentingan politik atau orang yang sudah pantas dipensiunkan. Melainkan generasi muda yang siap dan takut akan Tuhan. Generasi yang berjuang membangun bangsa. Ini aku Tuhan utuslah aku.

Pro Ecclesia Et Patria

 

Daftar Pustaka

Alkitab, 2012, Lembaga Alkitab Indonesia. Jakarta.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Please Contact STT LETS...!