Sang Pembangun Umat

30 views

Sang Pembangun Umat

Sebagai pelayan Tuhan, Anda adalah seorang pembangun umat. Allah memakai Anda untuk menolong orang lain agar bisa menjadi sesuai dengan rencana Allah bagi mereka. Namun kemungkinan besar Anda tidak terlatih untuk menjalankannya. Bagaimana Anda  memunculkan yang terbaik dari dalam diri orang lain? Entah dia adalah jemaat awam di gereja Anda, pimpinan gereja yang sedang Anda bimbing, atau seorang staf gereja yang sedang Anda bantu untuk bertumbuh. Kemampuan Anda untuk membangun umat merupakan tugas inti  Anda. Malahan, kebutuhan Anda untuk menjadi seorang pembangun umat tidak berhenti di saat Anda telah meninggalkan peran pelayanan Anda. Anda juga perlu menjadi pembangun keluarga dan para sahabat Anda.

Ada empat langkah berikut akan membantu Anda dalam membangun umat dengan lebih efektif:

  1. Beri tantangan pribadi kepada orang-orang.

Paulus melakukan hal ini di dalam Efesus 4:1, “Sebab itu aku menasihatkan kamu, aku, orang yang dipenjarakan karena Tuhan, supaya hidupmu sebagai orang-orang yang telah dipanggil berpadanan dengan panggilan itu.” Dia menantang pembaca suratnya untuk membuat hidup mereka berarti. Mengapa? Kita semua perlukan suatu target, proyek ataupun visi yang menuntut kita mengerahkan kemampuan terbaik kita. Jemaat Anda butuh dikerah untuk memperjuangkan sesuatu atau mengejar suatu visi.

Allah ingin agar kita dan jemaat kita memanfaatkan kekuatan dan kemampuan terbaik kita bagi Dia. Di tengah dunia yang sekuler ini, perencanaan karir, analisis temperamen serta tes kemampuan adalah bidang bisnis yang memberi keuntungan besar. Mengapa? Kita semua butuh orang yang bisa memberi kita tantangan pribadi, menolong kita menemukan dalam hal apa kita memberi hasil yang terbaik, serta mendorong kita untuk mengerjakannya dengan baik.

               Alkitab mengajarkan kita bahwa itulah hal yang seharusnya dilakukan oleh jemaat. Kita harus menjadi pembangun umat. Pokok ini harus selalu menjadi dasar pengajaran kita. Kita perlu menantang umat untuk hidup sesuai dengan rencana Allah. Apa yang dilakukan oleh kita dalam menantang orang untuk menggenapi rencana Allah?

  1. Beri mereka keyakinan penuh.

Paulus berkata dalam Roma 15:2-3 “Kita yang kuat, wajib menanggung kelemahan orang yang tidak kuat…untuk  membangunnya.” Paulus menyuruh kita untuk membangun orang lain dalam iman. Untuk bisa memunculkan yang terbaik dari dalam diri orang lain, kita perlu memberi mereka keyakinan penuh akan hal yang bisa Allah lakukan melalui mereka. Yesus melakukan hal ini pada Petrus. “Aku memberi kamu nama yang baru”. Nama Petrus, yakni Petros, berarti  batu karang. Saat Yesus mengucapkan hal ini kepada Petrus, dia ini sama sekali bukanlah batu karang. Saat itu dia adalah orang yang gegabah, impulsif dan ceroboh! Namun Yesus berkata bahwa dia akan menjadi batu karang. Yesus tidak menyebutkan seperti apa keadaan Petrus sebelumnya; Yesus menyebutkan akan menjadi seperti apa Petrus nantinya.

Setiap kali Anda mencap seseorang, Anda sedang membentuk orang tersebut. Jika Anda mencap jemaat Anda ‘malas’, ‘tidak tertib’ atau ‘pemarah’, maka hal-hal semacam itulah yang akan Anda dapatkan dari mereka. Jadi, bangunlah mereka. Allah melakukan hal ini pada Gideon. Dia menyebut Gideon ‘Pahlawan yang gagah berani’ padahal dia adalah orang paling penakut di kalangan umat Israel saat itu. Allah menyebut dia sebagai pahlawan yang gagah berani, dan Gideon memang benar-benar menjadi pemberani.
1 Tesalonika 5:11 menyebutkan, “Karena itu nasihatilah seorang akan yang lain dan saling membangunlah kamu seperti yang memang kamu lakukan.”

Jika Anda ingin menjadi pembangun umat, maka Anda harus menjadi pendorong semangat yang baik. Bagaimana melakukannya? Ada tiga tips untuk itu:

  1. Harus nyata – bukan sekadar sanjungan palsu.
  2. Harus teratur. Sampaikan setiap saat

Harus bisa dipahami atau tepat. Sampaikan dengan persis hal apa yang sedang Anda bangkitkan di dalam diri orang tersebut.

  1. Berikan mereka bimbingan yang bijak.

Anda tidak akan melihat kemajuan tanpa adanya proses belajar, dan tak ada proses belajar tanpa adanya umpan balik. Karena kita semua ini tidak sempurna, maka pandangan kita seringkali keliru. Kita perlu orang-orang yang akan menyatakan hal yang sebenarnya dengan jujur kepada kita.

Amsal 27:17 menyebutkan, “Kita belajar dari sesama sebagaimana besi menajamkan besi.” Kita akan bisa memunculkan yang terbaik dari dalam diri orang lain jika kita bersedia untuk bersikap jujur terhadap mereka. Pembangun umat harus cukup peduli untuk mengoreksi bahkan menegur.

Ingat bahwa tindakan koreksi itu berdampak kuat dan bisa berbahaya. Koreksi yang dilakukan dengan benar akan membangun orang; koreksi yang dilakukan dengan keliru bisa melukai seseorang seumur hidupnya.

Apakah yang membedakan antara koreksi yang benar dengan yang keliru? Sikap hati Anda saat melakukan koreksi. Jika sikap hati Anda seperti ini: “Aku hanya sekadar menunjukkan apa kesalahanmu,” maka itu salah. Orang tidak butuh dibeberkan kesalahannya. Kebanyakan dari kita cukup sadar akan apa kesalahan kita. Tujuan Anda seharusnya adalah untuk mendorong mereka untuk mengubah perilaku mereka dan bukan sekadar mengecam mereka. Efesus 4:15 menyebutkan, “teguh berpegang kepada kebenaran di dalam kasih.”

  1. Beri mereka penghargaan yang sepenuhnya.

Untuk menjadi pembangun umat, Anda perlu berikan pujian atas pertumbuhan dan perubahan yang Anda lihat terjadi di dalam diri mereka. Saya memasang plakat di kantor saya, plakat itu berbunyi, “Allah bisa mengerjakan hal-hal yang luar biasa melalui orang yang tidak peduli siapa yang akan menerima penghargaan.” Itu adalah bagian dari hal membangun umat. Umumnya kita cenderung berbagi kesalahan sambil menyimpan penghargaan bagi diri kita sendiri.

Sebagai seorang pendeta, Anda akan menerima banyak pujian jika segala sesuatu brjalan dengan baik (dan banyak kecaman jika hal sebaliknya yang terjadi). Hal ini wajar. Namun jika nanti ada orang yang memuji Anda atas sesuatu hal baik yang terjadi di gereja (pertumbuhan jemaat, peristiwa yang berdampak luas, atau yang serupa itu), cari siapa yang layak menerima penghargaan itu dan berikanlah kepada mereka. Itulah kepemimpinan. Dengan cara itu pulalah Anda akan membangun para pemimpin jemaat. Jika Anda terus saja memonopoli penghargaan atas hal-hal baik yang terjadi di gereja, akan sangat wajar jika nantinya Anda akan mengalami kesukaran dalam mempertahankan para pemimpin jemaat.

Penerapan keempat prinsip itu menuntut usaha keras. Selalu ada harga yang harus dibayar untuk menjadi Sang Pembangun Umat. Pengorbanan, usaha, uang dan tenaga – dan pada ujungnya adalah pengorbanan privasi Anda. Dan yang terutama, hal ini akan menggempur keegoisan Anda. Anda tidak bisa bersikap egois jika ingin menjadi pembangun umat.

Lalu mengapa Anda harus membangun umat? Karena itulah yang telah Allah perbuat untuk Anda. Allah telah begitu baik kepada Anda; maka Anda juga harus baik terhadap orang lain. Lakukanlah hal ini sebagai tanggapan Anda akan semua hal baik yang telah Allah perbuat bagi Anda. Anda ditantang untuk menggunakan segenap sisa waktu pelayanan Anda – dan itu berarti sisa hidup Anda – sebagai pembangun umat. Fokuskanlah pelayanan Anda pada usaha membantu orang lain agar menjadi sesuai dengan rencana panggilan Allah bagi mereka. Itulah pekerjaan para gembala; itulah pekerjaan para pendeta.

Haleluya !!!

by: Terry W_23032021

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Please Contact STT LETS...!