STUDI TENTANG IBADAH ONLINE

29 views

STUDI TENTANG IBADAH ONLINE

 

Ditulis oleh: Ir. Dwi Putranto, MTh.

Alumni Pasca Sarjana STT LETS BEKASI

 

 

I.                   PENDAHULUAN

 

Dunia berubah. Tidak ada seorangpun menyangka dan memprediksi pandemic Covid 19 yang melanda seluruh bumi. Tatanan berubah, nilai kehidupan berubah, bahkan cara beribadah pun berubah. Para ahli mencoba memulihkan kondisi dan berharap kembali ke pola hidup lama, tidak berhasil. Lalu para ahli eskatologi menghubungkan kondisi ini dengan tanda-tanda akhir zaman, sah-sah saja. Penganut teori konspirasi menari-nari dengan semangat mengatakan bahwa teori mereka terbukti. Yang paling kasihan adalah mereka yang mudah kuatir. Melelahkan sekali.

Apalagi media terus memborbardir berita-berita negative dan menakutkan tentang Covid-19 (kenyataannya masyarakat lebih menggemari berita buruk daripada yang berita baik dan positif). Banyak aspek kehidupan yang berubah, tapi mari kita melihat dari aspek ibadah gereja. Saya tidak membahas baik buruknya ibadah online, tapi kita tidak bisa menghindar dari fakta bahwa dalam kondisi ‘new normal’ ini ibadah online mau tidak mau menjadi keharusan, bukan pilihan lagi. Ketika pada akhirnya kondisi pulih, kita yakin bahwa kehadiran ibadah offline tidak akan seperti dulu lagi.

Sebagian jemaat pasti memilih online. Kelihatan sekali sekarang gereja mana yang menyiapkan dengan serius ibadah online, dan mana yang tidak. Jangan sampai gereja yang sedikit pemirsa (viewer) nya menghakimi yang banyak. Itu hanya karena mereka tidak menyiapkannya dengan serius. Mari kita lihat faktanya. Beberapa gereja atau pengkotbah besar mulai menyiapkan ibadah online, baik serius atau sekadarnya. Semuanya akan terlihat dari jumlah pemirsa, baik yang streaming ketika ibadah maupun melihat di luar jadwal ibadah. Saya mencoba melakukan studi sederhana untuk mendata 10 Gereja atau Pengkotbah yang paling tinggi pemirsanya.

 

II.                PEMBAHASAN

 

Saya melakukan survey sederhana dengan beberapa batasan sbb.:

·         Jumlah pemirsa terbanyak untuk sebuah ibadah atau rekaman online yang rutin, bukan acara-acara khusus seperti ibadah raya, seminar atau konser musik

·         Data diambil dari tayangan youtube mulai tanggal 1 Januari 2020 hingga 28 Februari 2021

Catatan: mungkin di luar table di bawah ada ibadah/acara rutin yang belum terdata

 

 

NO
IBADAH ONLINE
JUMLAH PEMIRSA
SUMBER DATA
1
Vlog ‘KAMU HEBAT’ edisi “Ramalanmu yang Benar/Tuhanku yang benar” Pdt. Gilbert Lumoindong
1.488.000
Gilber Lumoindong

14 Jan 2021
2
Saat Teduh Bersama Pdt. Philip Mantofa edisi “Tenang Dekat Allah”
375.000
Philip Mantofa

30 Jan 2021
3
Gereja Mawar Sharon (Pst. Philip Mantofa) edisi “Hal-hal yang dibukakan lewat puasa”
163.000
GMS

15 jan 2021
4
Ibadah Minggu Pdt. Gilbert Lumoindong
92.000
GBI Glow

11 Jan 2021
5
Ibadah raya GBI Sukawarna
70.000
GBI Sukawarna

29 Maret 2020
6
JPCC ibadah raya “Living Faith”
37.000
JPCC

21 Mar 2021
7
Ibadah Raya Gereja Rehobot Pdt. DR. Erastus Sabdono
32.000
Truth.id

19 Nov 2020
8
Kebaktian Umum GRII Pusat (Pdt. DR. Stephen Tong)
21.000
Reformed Injili

29 Nov 2020
                                                               

Di luar itu semuanya di bawah 10.000 pemirsa. Sebagai catatan, ibadah online Saksi Yehuwa mencapai 3.200 pemirsa. Jika kita membaca data di atas, kesimpulan yang bisa kita ambil adalah:

1.      Gereja besar (Mega Church) dengan jumlah jemaat di atas 10.000 orang dan jumlah kehadiran ibadah di atas 1.000 orang setiap kali ibadah tatap muka tidak mencerminkan kunjungan online. Ini berarti terjadi perubahan system yang harus kita cermati bersama. Ada beberapa contoh ekstrim yang bisa dicermati, misalnya sebuah Gereja besar di wilayah Gatot Subroto yang jumlah anggotanya di atas 100.000 orang, kehadiran online pada ibadah raya 21 Maret 2021 hanya 187 pemirsa.

2.      Nama besar Gereja atau Denominasi tidak lagi menjadi jaminan kehadiran yang tinggi, figure pribadi lebih ‘menjual’. Pdt. Gilbert Lumoindong dengan vlog “Kamu Hebat” sukses menjaring pemirsa karena memberikan materi kekinian, seperti mengulas ramalan paranormal kondang. Beliau lihai dalam mencari tema menarik. Pst. Philip Mantofa lebih stabil menguasai jumlah pemirsa yang menunjukkan bahwa beliau sudah memiliki penggemar tersendiri.

3.      Di luar ibadah minggu rutin, seminar dan ibadah pujian penyembahan menyedot pemirsa yang tinggi. Tema kekinian, seperti Covid 19, Kesehatan, akhir zaman dan semua yang berbau mistis memiliki magnet yang menyedot banyak pemirsa.

 

Kondisi ini membuat beberapa Gereja besar menjadi sedikit gusar. Secara finansial bisa dibayangkan biaya sewa Gedung (jika masih sewa) dan operasional Gereja tetap tinggi, sedangkan persembahan yang dikumpulkan saat ibadah offline menurun drastis. Para Gembala Sidang sibuk mengundang kembali dalam ibadah offline, tetapi faktanya tetap rendah kehadirannya, selain karena dibatasi pengisian ruang ibadah maksimal 50%, tetapi juga banyak jemaat memilih tidak hadir dengan alasan kekuatiran penyebaran Covid-19. Tapi toh jemaat yang tidak hadir offline, tidak juga hadir online.

Hal kedua yang juga harus diwaspadai dan menjadi pertanyaan besar adalah fakta di atas menunjukkan bahwa tidak berarti ada perpindahan kunjungan online dari jemaat Gereja tertentu ke ibadah online Gereja lain, karena total jumlah kehadiran online jauh sekali dari jumlah jemaat yang ada. Sebagai contoh sebuah Gereja besar dengan jumlah jemaat di atas 100.000 dengan kehadiran online di bawah 1.000, tidak berarti sisa 99.000 jemaat pindah ke ibadah online Gereja lainnya. Ke 99.000 ‘domba yang hilang’ itu ternyata benar-benar hilang.    

Kita akan mempelajari mengapa ada ibadah atau program online yang dikunjungi banyak pemirsa, sedangkan ada pula yang ditinggalkan. Tidak sedikit ibadah online yang hanya dihadiri puluhan pemirsa saja. Jika Gereja-Gereja di atas ingin meningkatkan jumlah kehadiran ibadah online harus melakukan perubahan dan perbaikan.

Hal-hal yang menyebabkan kecilnya kehadiran ibadah online:

1.      Sebagai orang Timur, budaya silaturachmi adalah budaya nasional. Ibadah online bagi sebagian besar jemaat masih terasa aneh dan kurang afdol. Tidak ada interaksi antar jemaat, khususnya ngobrol-ngobrol sesudah ibadah.

2.      Ada perasaan bersalah atau kurang rohani jika ibadah online. Akhirnya mereka memilih untuk tidak online maupun offline, karena kuatir kena Covid. Sebagian memilih untuk ibadah keluarga (mezbah keluarga).

3.      Gereja atau Pengkotbah kurang memahami azas-azas dasar dari entertainment. Tidak bisa dipungkiri, ibadah online adalah ibadah satu arah dengan azas entertainment. Kenyamanan pemirsa sangat penting, yaitu kecanggihan audio dan ketajaman kualitas videonya. Begitu tidak enak dilihat dan didengar, ibadah online akan ditinggalkan.

4.      Pengkotbah tidak mencoba untuk meningkatkan kapasitas dan kualitas pengajarannya. Sekarang tidak ada lagi jemaat fanatik. Mereka mempunyai sejuta pilihan, seperti memilih restoran. Jika materi kotbah itu-itu saja dan kurang menarik dibanding pengkotbah lainnya, maka akan ditinggalkan.

5.      Sebagai fungsi entertainment, kecuali kualitas audio dan video, aspek-aspek estetis tidak bisa ditinggalkan. Kualitas tata letak, asesoris mimbar, background, tata lampu dan hal-hal lainnya harus diperhatikan. Dan tidak bisa dipungkiri, penampilan Pengkotbah juga mempengaruhi. Bagaimana supaya ‘good looking’ tidak bisa dihindari.

6.      Durasi ibadah online tidak bisa lebih dari 1 jam. Terbukti durasi yang melebihi 1 jam akan ditinggalkan. Oleh karena itu dibutuhkan seorang sutradara dengan script atau scenario yang dipersiapkan sebelumnya. Ibadah yang ‘ngeflow mengikuti suara Roh Kudus’ tidak lagi popular. Mungkin ada beberapa Gereja yang tetap mengikuti pakem itu, tapi sekali lagi kita bicara fakta yang tidak bisa dihindari.

 

III.             PENUTUP

 

Saya mempelajari mengenai ibadah online yang berhasil menarik banyak pemirsa. Ini bisa dijadikan bahan pertimbangan atau pembelajaran, yaitu:

1.      Gereja atau Pengkotbah menginvestasikan secara khusus peralatan audio video yang canggih untuk menunjang ibadah online. Teknologi yang mutakhir akan mendukung sebuah tampilan yang sedap didengar dan dilihat.

2.      Ada sebuah scenario dan script yang jelas dan rapih, yang sudah dipersiapkan sebelumnya. Ada beberapa ibadah online yang menyediakan monitor di hadapan Pengkotbah dengan catatan kotbah tertulis yang ditayangkan, sehingga materi kotbah tidak melebar dan tetap focus. Improvisasi Pengkotbah terkendali dengan baik.

3.      Pst. Philip Mantofa yang paling tinggi pemirsanya mengerti benar bagaimana harus tampil. Perawatan fisik dan penampilan, termasuk pemilihan pakaian, benar-benar disiapkan secara professional. Mohon maaf, kita tidak bisa menghindari fakta bahwa pemirsa memilih Pengkotbah yang good looking. Ini tidak berarti harus cantik dan tampan, tetapi dengan kualitas kamera yang baik ini bisa disiasati, selain juga dibutuhkan konsultan penampilan dan tata rias.

4.      Materi kotbah ditingkatkan dengan pendekatan kekinian. Beberapa Pengkotbah terkenal tetap tinggi pemirsanya, bukan karena tampan atau cantik, karena isi kotbahnya membangun dan selalu baru.

Terakhir, ini yang mungkin belum terlalu banyak dipahami, yaitu dalam hal penghasilan atau pendapatan. Kondisi ini menyebabkan pemasukan atau persembahan Gereja menurun drastis. Apakah tidak ada cara lain untuk meningkatkan biaya operasional? Ini bukan perkara ‘cinta uang’ atau materialistis, tetapi biaya operasional Gereja tetap harus ditutupi. Saat ini para youtubers menjadi orang-orang sangat kaya dari tampilan youtube mereka. Penghasilan Atta Halilintar mencapai 6,8 Milyar rupiah per bulan, dan Nikita Mirzani 4 Milyar per bulan. Tidak perlu dikomentari konten youtube mereka, tetapi faktanya semakin ‘sampah’ semakin menarik para pemirsa.

Menurut situs https://finance.detik.com/berita-ekonomi-bisnis/d-5120555/segini-penghasilan-youtuber-yang-bikin-orang-rela-bikin-konten-sampah, dituliskan bahwa setiap yotuber rata-rata mendapatkan US$ 0.01 – US$ 0.03 per pemirsa (diasumsikan setiap pemirsa melihat 1 kali tayangan iklan). Berarti setiap 1.000 pemirsa, youtuber mendapatkan US$ 30 atau Rp. 420.000,-. Semakin tinggi pemirsa, iklan akan semakin banyak sehingga seorang youtuber terkenal akan mendapatkan hingga US$ 0.18 per pemirsa atau per 1.000 pemirsa mengumpulkan pundi-pundi Rp. 2.600.000,-. Kita bisa menghitung secara matematis menurut table di atas. Secara matematis jika Pengkotbah atau Gereja mendapatkan 100.000 pemirsa, maka pemasukkan dari iklan adalah minimal US$ 0.01 x 100.000 x Rp. 14.000,- = Rp. 14.000.000,-, dan maksimal US$ 0.18 x 100.000 x RP. 14.000 = Rp. 252.000.000,- per episode.

Akan tetapi youtuber tidak secara langsung mendapatkan uang dari iklan tersebut, karena tidak semua tayangan diminati iklan. Karena itu ada beberapa persyaratan yang harus dipenuhi, yaitu: minimal 1.000 subscriber dan minimal 4.000 jam tayang dalam 12 bulan terakhir. Oleh karena itu Gereja atau Pengkotbah harus secara intensif menambahkan tayangan-tayangan untuk mencapai itu dan lebih kreatif untuk menjaring iklan.

Maka kita bisa menyimpulkan bahwa Gereja atau Pengkotbah harus menyiapkan materi ibadah online lebih serius dan kreatif lagi, supaya kehadiran pemirsa meningkat. Pertama supaya kebenaran Firman Tuhan yang dikotbahkan dapat diterima dengan baik oleh pemirsa atau jemaat. Kedua supaya ada pemasukkan ekstra untuk menutupi biaya operasional Gereja. Jika pun pada akhirnya ibadah offline bisa dilaksanakan lagi, semua investasi ini tidak akan sia-sia.

 

Daftar Pusataka

Alkitab, 2012, Lembaga Alkitab Bahasa Indonesia Jakarta

https://finance.detik.com/berita-ekonomi-bisnis/d-5120555/segini-penghasilan-youtuber-yang-bikin-orang-rela-bikin-konten-sampah,

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Please Contact STT LETS...!