IMPLEMENTASI KARAKTER TANGGUNG JAWAB DALAM GERAKAN NASIONAL LITERASI DIGITAL MENUJU INDONESIA EMAS 100 TAHUN MERDEKA 2045

52 views

IMPLEMENTASI KARAKTER TANGGUNG JAWAB DALAM GERAKAN NASIONAL LITERASI DIGITAL MENUJU INDONESIA EMAS 100 TAHUN MERDEKA 2045

Ditulis oleh:

Obden Somero Odoh S.Th., M.Pd.K

Kepala Prodi Sarjana Pendidikan Agama Kristen STT LETS BEKASI

2 Timotius 2:1-2
Sebab itu, hai anakku, jadilah kuat oleh kasih karunia dalam Kristus Yesus.
Apa yang telah engkau dengar dari padaku di depan banyak saksi, percayakanlah itu kepada orang-orang yang dapat dipercayai, yang juga cakap mengajar orang lain.

PENDAHULUAN
Indonesia pada tahun 2045, akan berumur 100 tahun dimana saat itu diharapkan dapat memanfaatkan peluang atau jendela demografi (window of demography). Kondisi bonus demografi ini perlu diantispasi oleh Pemerintah dan masyarakat, secara khusus keluarga, dan pendidikan di Indonesia hari ini. Ada dua kemungkinan dampaknya, yaitu sebagai peluang atau hambatan.
Bonus demografi dapat tercapai jika kualitas sumber daya manusia di Indonesia memiliki kualitas sehingga akan berdampak pada pertumbuhan ekonomi negara. Sebaliknya hambatan demografi akan terjadi jika jumlah penduduk yang berada pada usia produktif ini justru tidak memiliki kualitas sehingga menghasilkan pengangguran dan menjadi beban negara. Pada masa itu diharapkan Indonesia mengalami kemajuan luar biasa karena memiliki bonus demografi. Indonesia berpeluang masuk menjadi lima negara di dunia dengan ekonomi terbesar.
Impian besar tentang Indonesia unggul, maju, bersaing dengan bangsa-bangsa lain dan telah cukup dewasa untuk mengatasi isi-isu persoalan klasik bangsa, seperti korupsi, disintegrasi dan kemiskinan. Untuk mewujudkan impian tersebut kunci utamanya ada pada manusianya. Dengan demikian kualitas sumber daya manusia menjadi dasar dari impian menjadi Indonesia emas tahun 2045 mendatang.
Pemimpin bangsa tahun 2045 adalah mereka yang saat ini sedang duduk dibangku sekolah dasar (penduduk tidak produktif, usia 14 tahun kebawah) dan pendidikan menengah dan pemuda pemudi yang termasuk kedalam penduduk usia produktif (usia 15 tahun keatas). Kualitas generasi di masa datang ditentukan oleh kualitas keluarganya saat ini. Peran keluarga sangat penting sebagai sumber kekuatan untuk membangun bangsa dan negara. Keluarga sebagai hulu dari pembentukan karakter anak bangsa. Keluarga yang baik akan melahirkan putra-putri bangsa berkualitas baik yang tentunya menjadi penopang bangsa dan negara. www.bkkbn.go.id
Pandemi Covid 19 yang melanda seluruh dunia khususnya Indonesia telah berlangsung lebih dari satu tahun, masyarakat Indonesia mengalami percepatan transformasi digital dalam banyak bidang dan mengubah cara beraktivitas termasuk bidang Pendidikan dalam cara belajar mengajar. Teknologi menjadi suatu medium yang penting untuk mendukung pembelajaran jarak jauh belajar dari rumah (PJJ-BDR).
Kondisi ini, menciptakan tantangan tersendiri bagi para Tenaga Pendidik dan Kependidikan, Lembaga Pendidikan, dan Pemerintah sebagai pemangku kepentingan. Dalam implementasi Gerakan Nasional Literasi Digital diperlukan penguatan karakter kepada setiap warga negara secara khusus anak-anak. Perkembangan teknologi sangat berdampak positif dalam kemajuan bangsa, tetapi juga perlu diantipasi dampak negatifnya.

PEMBAHASAN
Pemerintah telah meluncurkan Gerakan Nasional Literasi Digital pada 16 april 2021 oleh Menteri Komunikasi dan Informatika, Johnny G Plate, dengan meluncurkan 4 (empat) modul literasi digital yaitu: 1 Budaya bermedia digital, 2 Aman bermedia digital, 3 Etis bermedia digital, 4 Cakap bermedia digital. Keempat modul ini akan dilakukan di 34 provinsi, 514 kabupaten kota selama 8 bulan ke depan sampai akhir tahun 2021, dan secara berkesinambungan akan dilakukan di tahun-tahun berikutnya sampai akhir masa kabinet ini.
Gerakan Literasi Digital Nasional kita melibatkan 12,4 Juta masyarakat, maka akan dilakukan di dalam lebih dari 20.000 kegiatan. Ia menjelaskan, 20.000 kegiatan itu merupakan hasil kerjasama diantara Kominfo, bersama Gerakan Nasional Literasi Digital Siberkreasi, pemerintah daerah, sekitar 110 lembaga dan organisasi organisasi kemasyarakatan yang akan melakukan secara bersama-sama, kerja kolaboratif. www.kominfo.go.id

  1. Gerakan Nasional Litersi Digital.
    Gerakan Nasional Literasi Digital adalah upayah bersama Pemerintah dalam membangun dan mencerdaskan bangsa secara terencana berkesinambungan. Berikut adalah Uraian 4 (empat) modul literasi digital yaitu:
    Pertama Budaya bermedia digital. Budaya bermedia digital adalah suatu gaya hidup baru dari kelompok masyarakat dalam melakukan berbagi aktivitas dalam bidang seperti pendidikan, usaha, pekerjaan , keluarga semua kegiatan itu menggunakan media digital.
    Kedua Aman bermedia digital. Aman dalam bermedia digital adalah infomasi yang disampaikan benar dan juga caranya benar. Semua warga negara memiliki hak dan kewajiban dalam bermedia digital. Dimana ada jaminan hak-hak pribadi atau sekelompok masyrakat sehingga bebas dari berita-berita hoaks, konten-kenten yang tidak benar.
    Ketiga Etis bermedia digital. Etis bermedia digital adalah ekpresi sikap relegiusitas yang bertanggung jawab. Dimana pemikiran dan praktek etika dimasyarakat yang berkaitan dengan komunikasi, interaksi social, perilaku media masa haruslah dijunjung tinggi.
    Keempat Cakap bermedia digital. Kecakapan dalam bermedia digital sangat penting. Kecakapan ini dimulai dari kecakapan menyaring informasi, memilih dan milah konten yang baik dan membangun diri dan kelompok.
    Penanaman dan pembiasaan Budaya bermedia digital, Aman dalam bermedia digital , Etis bermedia digital , sejak dini dalam hal literasi digital, Kecakapan dalam bermedia digital akan membentuk watak seseorang menjadi komuniktaor, mandiri dan berkarakter.
    Menteri Johnny menyatakan kebutuhan akan Sumber Daya Manusia yang handal dalam bidang Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) saat ini sangat mendesak untuk diupayakan secara masif, kolaboratif, dan berkelanjutan. Data Bank Dunia menunjukkan bahwa Indonesia sedang mengalami digital talent gap atau kesenjangan talenta digital, dimana kita membutuhkan 9 juta talenta digital dalam 15 tahun; atau rata-rata 600.000 talenta digital setiap tahunnya.
    Menyadari kebutuhan akan talenta digital Indonesia yang begitu besar, Kementerian Kominfo menggunakan pendekatan komprehensif yang mencakup 3 (tiga) tingkatan kecakapan digital. “Di level advanced atau tingkat lanjutan, program Digital Leadership Academy (DLA) diinisiasi untuk meningkatkan kapasitas pembuat kebijakan digital (digital decision maker) baik di sektor publik maupun privat. “Di tingkat menengah (intermediate digital skill), program Digital Talent Scholarship (DTS) juga diadakan untuk memberikan pelatihan teknis bagi para angkatan kerja muda, lulusan baru, profesional, dan elemen masyarakat lainnya. Program ini mengajarkan berbagai kecakapan era digital seperti artificial intelligence, machine learning, cloud computing, cybersecurity, digital entrepreneurship, digital communication, dan sebagainya. Tahun 2021 ini, kami memberikan 100.000 beasiswa DTS untuk masyarakat Indonesia dengan tema-tema seperti tersebut sebelumnya. Modul ini merupakan manifestasi kolaborasi dari Gerakan Nasional Literasi Digital (GNLD) Siberkreasi, Jaringan Penggiat Literasi Digital (Japelidi) dan Kementerian Kominfo. Kegiatan ini dihadiri sekitar 3.300 peserta dari seluruh kota/kabupaten secara daring; 250 peserta secara luring di lima kota, dengan menjalankan protokol kesehatan; serta 10 ribu penonton dari berbagai kabupaten/kota di Indonesia melalui saluran Youtube. www.kominfo.go.id
  2. Karakter Tanggung Jawab.
    Tanggung Jawab bukanlah kata asing bagi kita semua. Setiap manusia memiliki tugas dan tanggung jawabnya masing–masing. Dalam menjalankan tugas dan tanggung jawab yang dibebankan kepadanya, baik tanggung jawab sebagai seorang anak, orang tua, perserta didik, karyawan, semua harus mempertanggungjawabkan perbuatannya kepada Tuhan dan sesama.
    Definisi tanggung jawab dalam kamus besar Bahasa Indonesia adalah keadaan di mana wajib menanggung segala sesuatu atau memberikan jawab dan menanggung akibatnya. Dalam buku Character Traning Institute tanggung jawab adalah memahami dan melakukan apa yang sepatutnya saya lakukan. Dalam bahasa Inggris responsible (bertanggung jawab) berasal dari 2 akar kata bahasa Latin : responsum, yang berarti “suatu jawaban, balasan”; dan spondere, yang berarti “ berjanji”. Jadi konsep dibalik pertanggung jawaban adalah memberikan tanggapan seperti yang telah dijanjikan.
    Pribadi yang bertanggung jawab akan memperoleh kepercayaan dan dengan sendirinya akan menjadi pribadi yang dipercaya memikul tanggung jawab yang lebih besar, sewaktu mereka menepati janji. Tanggung jawab tidak semata-mata terbatas pada kata tertentu yang dipakai untuk menyampaikan suatu tugas akan tetapi juga mencakup harapan dari orang yang memberikan tugas tersebut. Karakter tanggung jawab itu sendiri dilambangkan dengan burung rajawali, dimana seekor burung rajawali ternyata menggambarkan bagaimana seorang yang mampu bertanggung jawab untuk memenuhi kebutuhan keluarga sampai kepada tanggung jawab dalam mengajarkan anaknya untuk belajar bertanggung jawab untuk menghadapi kehidupan terutama saat seekor burung rajawali mengajarkan kepada anaknya untuk terbang pertama kali dimana ia mendorong anaknya dari sarangnya dari ketinggian namun tetap dengan sigap menangkap saat ia melihat anaknya belum dapat namun hal itu tidak membuat ia lelah dalam mengajarkan kepada anaknya untuk dapat terbang. Begitu pula dengan kita sebagai seorang manusia meskipun menghadapi kesulitan dan kegagalan tetapi tidak membuat kita menyerah dalam melakukan tugas yang diberikan namun dengan gigih tetap berusaha untuk menjalankannya dengan sebaik mungkin dan mau untuk mencoba hingga berhasil dengan sebaik mungkin.
  3. Memahami peran masing-masing
    Orang yang menerimah banyak tanggung jawab sepanjang hidupnya, karena mereka menjalani berbagai peran. Menyadari peran anda dalam hidup ini membantu anda untuk memahami tanggung jawab yang berkaitan dengan peran tersebut.
    a. Peran Pemerintah. Pemerintah adalah wakil Allah dibumi yang memiliki otoritas. Pemerintah selaku pemangku kepentingan harus sungguh-sungguh dalam menjalakan roda pemerintahan.
    b. Perang warga negara. Warga negara beranggung jawab membela negara dan hukum-hukumnya
    c. Peran Pelajar/Mahasiswa. Setiap peserta didik menggunakan Sebagian bersar waktu mereka belajar, menaati pendidik
    d. Peran Anak. Seabagai anak bertanggung jawab menaati perintah, aturan yang disepakati orang tua
    e. Peran Orang tua. Orang tua bertanggungjawab untuk menapkahi, melatih, mendidik, melindungi tanpa membangkitkan amarah
    f. Peran Karyawan. Karyawan bertanggung jawa untuk mendudkung kesuksehan perusahaan
    g. Perang Pimpinan. Pemimpin bertanggung jawab membayar upah karyawan secara jujur, memberi arah, mendelegasikan, mengawasi, dan evaluasi

Bertanggung jawab berarti memahami dan melakukan apa yang sepatutnya dilakukan. Karakter tanggung jawab menjadi hal yang sangat penting dan wajib bagi semua orang baik itu sebagai pemimpin, orang yang dipimpin, karyawan, guru dan semua profesi mewajibkan untuk memiliki sikap tanggung jawab yang tinggi. Semakin bertambahnya usia atau semakin tinggi kedudukan seseorang, maka tanggung jawab yang harus diemban juga akan semakin besar. Tanggung jawab setiap orang berbeda-beda karena disesuaikan dengan peran masing-masing, karena setiap peran mempunyai kewajiban yang berbeda-beda.
Dengan sikap bertanggung jawab, seseorang akan dipercaya, dihormati, dan dihargai serta disenangi oleh orang lain, sikap bertanggung jawab seseorang membuat ia berhasil menyelesaikan tugas dengan baik. Semua manusia melakukan tanggung jawabnya dimulai kepada Tuhan, kepada diri sendiri, keluarga, masyarakat, serta kepada bangsa dan negara. Oleh karena tanggung jawab ada di semua usia, perlu untuk mengajarkan karakter tanggung jawab kepada anak-anak sejak dini, agar mereka terlatih dan terbiasa untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi bahkan dari hal-hal kecil dengan bertanggung jawab.
Dalam hal mengembangkan dan mengajarkan karakter bertanggung jawab pada anak perlu melakukan hal-hal sebagai berikut :

  1. Bercerita dengan tema yang berkaitan dengan karakter tanggung jawab. Setelah selesai bercerita, ajak anak untuk mengambil kesimpulan dari cerita tersebut tentang perilaku yang boleh dan tidak boleh untuk dilakukan.
  2. Mengajak anak bermain dapat juga dapat mengambil kesimpulan tentang perilaku yang boleh dilakukan dan yang tidak boleh, seperti perilaku curang atau rela berkorban.
  3. Praktik langsung dapat dilakukan dengan memberikan tugas sederhana sesuai dengan kemampuan anak, membiarkannya untuk mengambil keputusan sendiri, melatih menyelesaikan tugas, membiasakan anak menerima konsekuensi dan belajar dari kegagalan, serta mendukung anak saat melewati situasi sulit dengan memberikan bimbingan, memberikan alternatif pemecahan dan mendampingi anak menyelesaikan tugasnya.

PENUTUP
Hal-hal di atas dapat membantu para orang tua dan pendidik untuk mengembangkan dan mengajarkan karakter tanggung jawab kepada anak-anak. Membangun reputasi sebagai orang yang menepati janji itu seperti menaiki tangga, setiap kali menepati janji maka semakin tinggi tangga yang dinaiki, namun bila tidak menepati janji akan kembali tergelincir ke bawah. Jika seseorang menepati janji, maka orang lain akan dapat mengandalkan seseorang tersebut untuk melakukan sesuai yang dijanjikan, sebaliknya jika seseorang tidak menepati janji, maka ia tidak akan mendapatkan kepercayaan dari orang lain serta kehilangan rasa hormat dari orang lain, karena menepati janji merupakan salah satu syarat untuk lebih diterima dan dipercaya.
Berjanji dan mengucapkan janji itu jangan sembarangan walaupun di luar sana banyak juga orang yang berjanji tapi tak ditepati sama sekali. Soal ditepati atau tidak itu soal nanti, yang penting janjikan saja dulu. Alasan bisa dicari belakangan. Sakit, kurang enak badan, urusan keluarga, mogok, mungkin menjadi alasan paling favorit bagi banyak orang untuk melanggar janjinya. Bagi orang-orang percaya, perilaku ingkar janji tidak berbeda jauh dengan berbohong. Yesus berkata tegas: “Jika ya, hendaklah kamu katakan: ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan: tidak. Apa yang lebih dari pada itu berasal dari si jahat.” (Matius 5:37). Jadi jika kita sudah mengatakan ya, tepatilah, sebelum si jahat menemukan sebuah lahan bermain yang menyenangkan dalam diri kita dan kemudian membuat kita terus bertumbuh menjadi pembohong-pembohong kelas kakap yang tidak lagi merasa bersalah ketika melakukannya.
Itu sebabnya, belajarlah sejak dini untuk menepati dan menganggap serius sebuah janji. Orang yang selalu menepati janji dengan sendirinya menjadi saksi kuat akan dirinya sendiri dalam hal kebenaran, sehingga mereka tidak lagi perlu mengucapkan sumpah-sumpah lewat bibirnya untuk meyakinkan orang lain. Tuhan Yesus mengajarkan kita, hendaklah kita mau menghormati janji dengan menepatinya. Jika ya, katakanlah ya. Jika tidak, katakan tidak. Diluar itu adalah kebohongan yang datang dari si jahat. Ketika mengatakan ya, peganglah itu dengan sungguh-sungguh. Jangan biasakan untuk memberi janji-janji palsu dengan alasan apapun.
Mengajarkan anak menepati janji memang tidak semudah melatih kemampuan motorik atau bahasa, tapi akan membantunya mengembangkan karakter pribadi yang positif saat tumbuh dewasa nanti. Mengajarkan anak menepati janji itu penting dalam menumbuhkan kesadaran anak untuk menjadi orang yang bisa dipercaya, diandalkan, juga menghargai diri sendiri dan orang lain.
Berikut hal-hal yang dapat dilakukan untuk mengembangkan karakter tanggung jawab anak dalam hal menepati janji, yaitu:

  1. Memberikan contoh
    Menurut pakar pendidikan dan perkembangan Dr. Gloria Julius, mengenalkan konsep menepati janji bisa dimulai dengan memberikan contoh nyata tentang sikap bisa diandalkan dan dipercaya sejak anak berusia 3 tahun. Misalnya saja, mengajak anak ke taman bila dia bersikap baik selama acara kumpul keluarga atau membuatkan makanan favorit untuk anak setelah pulang sekolah seperti yang sudah orang tua janjikan sebelumnya.
  2. Buat janji yang realistis
    Setelah memberikan contoh, orang tua bisa mengajaknya berdiskusi tentang pentingnya membuat janji yang realistis dan sesuai dengan kemampuan. Ingatkan anak untuk tidak membuat janji besar saat sedang bersemangat, tapi kemudian ternyata sangat sulit untuk ditepati. Misalnya saja membuat resolusi tahun baru untuk membaca lebih dari 5 buku dalam setahun. Ajarkan anak untuk membuat janji realistis dengan memasukkan pertimbangan waktu dan cara spesifik yang akan dilakukan untuk mencapainya, menjadi ‘berjanji untuk membaca 5 buku dalam setahun, dengan membaca buku selama 30 menit setiap hari sepulang sekolah’. Janji yang realistis dan spesifik seperti tadi diharapkan bisa membuat anak lebih fokus menepati janji dan tidak memudar semangatnya setelah waktu berlalu.
  3. Membuat pengingat
    Membuat pengingat visual yang diletakkan di tempat yang mudah dilihat juga bisa membantu anak untuk selalu menepati janjinya. Bimbing anak untuk menuliskan janji di media apapun yang dirasa pas, misalnya pada bentuk bintang dari kertas warna dan ditempelkan di meja belajar atau catatan kecil di halaman depan buku hariannya. Dengan melihat pengingat visual yang dibuatnya, anak tidak akan mudah lupa dan bisa selalu fokus pada hal yang harus dilakukan untuk menepati janji.
  4. Tidak membuat janji yang tidak bisa ditepati
    Saat mengajarkan anak menepati janji, orang tua juga perlu mengajaknya berdiskusi tentang dampak dari kebiasaan membuat janji yang tidak bisa ditepati. Ingkar janji bukan hanya akan mengecewakan dan merusak kepercayaan orang lain, tapi juga sama saja dengan tidak menghargai dirinya sendiri. Rasa tidak nyaman yang timbul karena tidak menepati janji juga bisa membuatnya menilai buruk diri sendiri.
    Hal-hal tersebut di atas dapat dilakukan di lingkungan keluarga dan juga di lingkungan sekolah untuk melatih dan mengembangkan karakter tanggung jawab anak dalam hal menepati janji kepada orang lain. Tentu masih banyak cara yang dapat dilakukan sesuai dengan keadaan dan kemampuan anak tersebut.

DAFTAR PUSTAKA
Alkitab, 2017, Lembaga Alkitab Indonesia, Jakarta
SDTK Tunas Pertiwi, 2018, Karakter Tanggung jawab, Pendidikan Karakter, Sekolah Tunas Pertiwi Bogor.
https://gln.kemdikbud.go.id/glnsite/wp-content/uploads/2017/09/17.1.17-Memgembangkna-Tanggung-Jawab. Disadur 2 April 2021
https://www.orami.co.id/magazine/4-manfaat-penting-mengajarkan-anak-untuk-menepati-janji-sejak-kecil. Disadur 2 April 2021
https://www.beritasatu.com/nasional/704243/literasi-digital-jawab-tantangan-tranformasi-dunia-pendidikan . Disadur 2 April 2021
https://www.kominfo.go.id/content/detail/33924/siaran-pers-no123hmkominfo042021-tentang-kominfo-luncurkan-4-modul-literasi- digital/0/siaran_pers#:~:text=Menteri%20Johnny%20Luncurkan%20Gerakan%20Nasional%20Literasi%20Digital%20untuk%2012%2C4%20Juta%20Masyarakat&text=Menteri%20Komunikasi%20dan%20Informatika%2C%20Johnny,(4)%20Cakap%20Bermedia%20Digital. Disadur 18 April 2021
https://www.bkkbn.go.id/detailpost/bonus-demografi-peluang-atau-tantangan-menuju-indonesia-emas-2045 Disadur 18 April 2021

1 tanggapan pada “IMPLEMENTASI KARAKTER TANGGUNG JAWAB DALAM GERAKAN NASIONAL LITERASI DIGITAL MENUJU INDONESIA EMAS 100 TAHUN MERDEKA 2045

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Please Contact STT LETS...!