PANGGILAN MENJADI AGEN MODERASI AGAMA

231 views

PANGGILAN MENJADI AGEN MODERASI AGAMA

Ditulis oleh:

Antonius Natan Wakil Ketua 1 STT LETS Bekasi

Yeremia 29: 7 Usahakanlah kesejahteraan kota ke mana kamu Aku buang, dan berdoalah untuk kota itu kepada TUHAN, sebab kesejahteraannya adalah kesejahteraanmu.

PENDAHULUAN
Panggilan yang unik dalam Kitab Yeremia, bahwa umat Tuhan pada masa itu adalah tawanan, dalam arti yang luas bahwa mereka terikat dan tunduk kepada penguasa pada jamannya. Walaupun dalam keadaan yang sulit, tidak nyaman dan mungkin juga dalam kondisi tertekan dan tidak memiliki kemerdekaan secara fisik maupun politik. Tetapi Allah memberikan pesan yang sangat jelas agar Umat-NYA berdoa bagi kota dimana mereka berada. Meminta kepada Allah agar ada kesejahteraan bagi kota tempat tinggal sehingga apabila kota yang sejahtera dengan demikian umat Tuhan yang tertawan dikota tersebut akan menikmati kesejahteraan pula.
Kondisi dan peristiwa pada masa tersebut sangat berbeda dengan kondisi pada jaman modern saat ini. Tetapi ada beberapa persamaan yang yang perlu dicermati. Sebagai penganut agama Kristen di Indonesia sebagai warganegara wajib terikat dengan peraturan, ketentuan dan perundangan yang berlaku. Bukankah ini merupakan keterikatan, sebagai manusia bebas tidak mutlak memiliki kemerdekaan fisik maupun politik. Ada Batasan yang boleh dan tidak boleh dilakukan. Selain secara hukum, ada budaya lokal, etika moral yang harus dijunjung tinggi. Tentunya sebagai penduduk kota terikat dengan situasi dan kondisi yang ada. Maka Umat Kristiani tidak dapat berbuat sesuai dengan pemikiran individu pribadi jika bertentangan dengan berbagai hukum, peraturan, etika, budaya dan lain sebagainya.
Dengan pemahaman diatas maka dapat terlihat bahwa Allah mendorong agar Umat-NYA berdoa sebagaimana yang dikatakan Rasul Paulus dalam Perjanjian baru yakni 1 Timotius 2
1 Pertama-tama aku menasihatkan: Naikkanlah permohonan, doa syafaat dan ucapan syukur untuk semua orang,
2 untuk raja-raja dan untuk semua pembesar, agar kita dapat hidup tenang dan tenteram dalam segala kesalehan dan kehormatan.

PEMBAHASAN
Ada Pola yang ditawarkan Tuhan kepada Umat-NYA terkait ayat ini, menurut Matthew Henry Commentary
Allah mengarahkan mereka supaya mengusahakan kebaikan negeri di mana mereka dibuang (ay. 7), untuk mendoakannya, dan berusaha memajukannya. Dengan begitu mereka dilarang untuk mengusahakan apa saja yang melawan ketertiban umum selama mereka menjadi bawahan raja Babel. Meskipun seorang kafir, penyembah berhala, penindas, dan musuh Allah dan jemaat-Nya, namun, selama raja memberi mereka perlindungan, mereka harus setia terhadapnya, dan hidup tenang dan tenteram di bawah pemerintahannya, dalam segala kesalehan dan kehormatan.
Mereka tidak boleh bersekongkol untuk melepaskan kuknya, tetapi dengan sabar menyerahkan kepada Allah untuk mengerjakan pembebasan bagi mereka pada waktunya. Bahkan, mereka harus berdoa kepada Allah meminta kedamaian di tempat-tempat mereka berada, supaya mereka membuat orang-orang di negeri asing terus berbaik hati terhadap mereka dan membuktikan bahwa sifat yang sudah digambarkan tentang bangsa mereka itu salah, yaitu bahwa mereka selalu mendatangkan kerugian kepada raja-raja dan daerah-daerah, dan selalu mengadakan pemberontakan (Ezr. 4:15). Baik kecerdikan ular maupun ketulusan merpati menuntut mereka untuk setia terhadap pemerintah yang di bawahnya mereka hidup: Sebab kesejahteraannya adalah kesejahteraanmu.
Sekiranya negeri itu terlibat perang, merekalah yang paling banyak terkena dampak-dampaknya yang merugikan. Demikianlah jemaat Kristen mula-mula, sesuai dengan sifat dari agama mereka yang kudus, berdoa bagi pemerintah-pemerintah yang ada, meskipun pemerintah-pemerintah itu menganiaya mereka. Dan, jika mereka harus berdoa dan mengusahakan kesejahteraan negeri di mana mereka dibuang, jauh lebih besar lagi alasan bagi kita untuk mendoakan kesejahteraan negeri kelahiran kita, di mana kita hidup sebagai orang-orang merdeka di bawah pemerintahan yang baik, sehingga dalam kesejahteraannya kita dan keluarga kita dapat sejahtera. Setiap penumpang berkepentingan dalam keselamatan kapal.


Menafsirkan Teks Kitab Suci Agama-Agama
Dari pemahaman diatas maka tafsir teks Kitab Suci menjadikan Umat Kristiani senantiasa bertindak takut akan Tuhan, menghormati pemerintahan dan menghargai perbedaan-perbedaan. Pemahaman yang sama mungkin juga dilakukan oleh pemeluk masing-masing agama, tetapi pada faktanya ada saja penyimpangan dan pengecualian yang terjadi. Seperti ulah teroris baru-baru ini mencabik keharmonisan yang telah dijalin dan dirawat selama ini. Akibat kelompok teroris yang merusak kedamaian dengan cepat meluluhlantahkan nilai-nilai moral dan etika yang dianut. Dan lebih jauh tentunya melanggar hukum dan kepatutan agama yang dianut. Selanjutnya adalah munculnya kecurigaan terhadap agama tertentu kembali mencuat. Dibutuhkan waktu dan kesabaran, demikian pula kebesaran hati untuk menata ulang kepercayaan dan saling menghormati satu dengan lainnya.


Merawat Pancasila sebagai filosofi bangsa yang ber-Ketuhanan Yang Maha Esa, selama ini menjadi sumber segala hukum dan pijakan keharmonisan dalam kepelbagaian di nusantara bukanlah persoalan sederhana. Sejumlah Tindakan terorisme merupakan akibat dari pemahaman, penghayatan dan cara berpikir yang keliru terhadap ajaran agama yang dianut. Selain itu ada beberapa faktor yang memicu seperti pendidikan yang salah pada masa kecil, tekanan ekonomi, masalah sosial, kondisi budaya dan sebagainya.


Pengajar agama yang memang tidak memenuhi kualifikasi atau tidak memiliki kompetensi dalam bidangnya serta tidak mempunyai otoritas untuk menafsir teks Kitab suci. Berakibat kepada murid yang diajarkan memiliki pemahaman yang salah dan keliru. Penanaman kebenaran hakiki bertumbuh menjadi kemutlakan yang berujung kepada pemahaman bahwa siapapun yang tidak setuju adalah musuh atau sesat. Rumusan moral dan budaya tidak lagi menjadi penghalang. Maka menjadikan manusia lain yang berbeda keyakinan dianggap sesat dan menjadi persoalan rumit apabila tindakan bom bunuh diri dijadikan pembenaran.


Tafsir atas teks Kitab Suci dalam agama tertentu memang satu. Akan tetapi tafsir atas teks itu tidak tunggal, melainkan banyak dan beragam. Keragaman tafsir tidak terhindari dalam komunitas agama apapun. Dalam Hermenutika dan eksegese teks Kitab Suci tidak berdiri sendiri, dan ada tata cara tafsir serta interpretasinya. Perlu disadari Tafsir tersebut dilakukan oleh manusia biasa bukanlah malaikat. Walau dalam diri sebagai seorang Kristiani dipercaya ada kuasa Roh Kudus menyertai.


Mempelajari tafsir yang tidak sesuai atau salah maka diperlukan pihak yang memiliki otoritas untuk memberikan tafsir yang terjadi dalam pemahaman Teks Kitab Suci. Pihak yang otoritatif tentu memiliki kompetensi yang diakui agar meluruskan kembali tafsir-tafsir yang salah, keliru dan kurang tepat. Sebagai upaya mencegah penyesatan dan tindakan yang radikal. Tafsir keliru dan salah menjadikan manusia radikal, menganggap diri benar dan sikap mempersalahkan manusia lain dan berujung menjadi teroris.

Beberapa Hasil Penelitian Terhadap Tindak Terorisme
Melihat pelaku tindak terorisme yang pernah terjadi melibatkan keluarga yang terdiri dari ayah, ibu dan anak-anak. Menjadi keprihatinan bahwa kaum muda usia 17 tahun hingga 35 tahun terlibat aksi terorisme. Survei diunggah situs resmi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, lipi.go.id. Februari 2016 memperlihatkan hampir 50 persen pelajar setuju tindakan radikal. Sebanyak 52,3 persen siswa setuju dengan kekerasan untuk solidaritas agama dan 14,2 persen membenarkan serangan bom. Survei tersebut juga menyebut 25 persen siswa dan 21 persen guru menyatakan Pancasila tak lagi relevan. Kemudian data juga merekam ada 84,8 persen siswa dan 76,2 persen guru setuju dengan penerapan syariat Islam di Indonesia. Survey diatas dikukuhkan oleh temuan riset Mata Air Fondation dan Alvara Research Center yang secara khusus mengukur sikap dan pandangan keagamaan kalangan pelajar SMA dan mahasiswa Indonesia.


Survei yang dilakukan dengan wawancara tatap muka pada kurun waktu 1 September hingga 5 Oktober 2017 terhadap 1.800 mahasiswa di 25 perguruan tinggi unggulan di Indonesia dan 2.400 pelajar SMAN unggulan di Pulau Jawa serta kota-kota besar di Indonesia. Hasilnya menunjukkan bahwa 23,4 persen mahasiswa dan 23,3 persen pelajar SMA telah terpapar paham radikal. Mereka setuju dengan jihad untuk tegaknya negara Islam atau khilafah. Demikian juga tentang ideologi Pancasila. Terdapat 18,6 persen pelajar dan mahasiswa sebanyak 16,8 persen lebih memilih ideologi Islam sebagai ideologi bernegara dibandingkan Pancasila.


Moderasi Beragama
Kata moderasi merupakan kosa kata baru dalam Bahasa Indonesia, Kata mo.de.ra.si /modêrasi/ dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia memiliki pengertian 1. n pengurangan kekerasan, 2 n penghindaran keekstreman.
Pemahaman terkait pengurangan kekerasan, penghindaran keekstriman merupakan lawan dari fundamenatlis dan terorisme. Pada dasawarsa ini terjadi eskalasinya terus meningkat. Setiap tahun terjadi tindakan terorisme diberbagai lokasi tidak saja di wilayah gereja melainkan melakukan penyerangan di markas-markas kepolisian. Pelaku tindak terorisme beragam, pelakunya melibatkan keluarga, seperti isteri dan anak-anak atau pelaku tunggal yang berasal darim kalangan milenial. Tentu kondisi ini menjadi sangat memprihatinkan.


Bentuk penyesatan dan terorisme diawal dalam Kitab Kejadian bahwa terjadi peristiwa kekerasan dan pembunuhan bahwa Kain membunuh habel. Kitab Suci agama Kristen menyatakan bahwa penyesatan terjadi sepanjang sejarah hidup manusia, diawali dari rayuan setan kepada Adam dan Hawa yang merusak citra manusia dengan kebohongan yang menyesatkan. Tetapi agama Kristen juga mengajarkan bahwa manusia harus beriman dan diberikan kuasa untuk melawan dan mengalahkan kuasa setan. Setan sebagai bapak pembohong sering melakukan tindakan teror dan memiliki sifat menipu.


Manusia diberikan hikmat bahwa tidak tepat mengkaitkan ajaran teroris dengan ajaran agama tertentu. Mengkaitkan pelaku tindak terorisme dengan pemeluk ajaran agama tertentu memang terjadi karena tafsir yang salah. Pelaku dibina oleh pendidik yang tidak memiliki otoritas dan tidak kompeten dalam ajaran agama yang bersangkutan. Tentu tidak ada satu agama apapun melegalkan tindakan terorisme dan perbuatan inskonstitusional.
Memahami agama dan pengamalan ajaran agama secara holistik merupakan solusi menuju keharmonisan lintas agama. Untuk memperkuat pemahaman agama kaitannya dengan keadaan kebangsaaan dan dinamika keagamaan di Indonesia, pemerintah dan masyarakat khususnya Nahdlatul Ulama (NU) terus menggelorakan Islam Moderat.
Dalam agama, posisi moderat berpusat dan menentang liberalisme atau konservatisme.


Bagi Islam, kaum moderat menentang pandangan ekstrem ekstremisme Islam dan fundamentalisme Islam.Bagi Kekristenan, kaum moderat dalam evangelikalisme akan menentang gagasan-gagasan Kristen sayap kanan dan fundamentalisme Kristen, menentang pernikahan sesama jenis tetapi menentang diskriminasi berdasarkan orientasi seksual, serta orang Kristen liberal menentang gagasan kiri Kristen sayap kiri.
Dikutip dari NU online, Islam moderat berarti cara pandang keseluruhan (kaaffah) terhadap Islam itu sendiri par excellence, tanpa harus terjebak dikotomisasi kepentingan sektarian.
Menurut Prof. Dr. Kudret, Dekan Fakultas Ilmu Politik, Universitas Yıldırım Beyazıt Ankara Islam moderat dimaksudkan sebagai konsep yang melawan aksi teror yang mengatasnamakan agama, yang tidak memiliki batas-batas Islam, kemanusiaan, moral, kesadaran, dimanapun itu berada, tidak ada seorang pun yang memiliki akan menentang perjuangan semacam ini.


Menurut Imam Shamsi Ali, imam di Islamic centre di New York, Amerika Serikat Istilah moderat, dan lawan katanya ekstremisme dan radikalisme, sejak beberapa tahun terakhir menjadi sangat popular. Sesungguhnya ketika menyebut Islam, maka bagi seorang yang paham tentang agama ini secara otomatis akan memahaminya sebagai petunjuk hidup moderate. Moderate dalam arti “imbang” dan tidak melampaui batas-batas kealamiaan kemanusiaan. Dalam segala aspek ajarannya Islam itu berkarakter “imbang” (moderate).


Prof. Dr. AG. H. Muhammad Quraish Shihab, Lc., M.A. adalah seorang cendekiawan muslim dalam ilmu-ilmu Al Qur’an dan mantan Menteri Agama pernah mencontohkan perilaku moderat dalam keseharian manusia di antaranya: sikap dermawan itu adalah kondisi moderat di antara kikir dan boros, sikap berani itu adalah kondisi moderat di antara takut dan nekat.

PENUTUP
Agen Moderasi Agama
Memperhatikan situasi yang berkepanjangann dan sangat rumit, maka pencegahan persoalan ini tidak dapat dikerjakan oleh pemeluk agama tertentu saja, atau diserahkan kepada kebijakan pemerintah semata. Melainkan masalah ini haruslah menjadi agenda seluruh agama-agama yang ada, pemerintah dan masyarakat. Saat ini kita perlu menyelamatkan generasi muda bangsa Indonesia. Menjadi generasi yang takut akan Tuhan, generasi yang peduli pembangunan, generasi yang mengakui nilai-nilai Pancasila, generasi yang mengenali agamanya secara benar. generasi yang cinta Indonesia dan memiliki iman yang moderat. Tentu saja semuanya harus diawali dengan orang tua yang memahami hakekat perkawinan dalam keluarga, Orang tua yang peduli terhadap pendidikan dan perilaku anak-anak.


Memperhatikan hasil penelitian terhadap sejumlah siswa Sekolah Menengah memperlihatkan bahwa semakin tinggi sikap moderasi pelajar, semakin tinggi wawasan kebangsaannya. Pengetahuan agama berpengaruh terhadap wawasan kebangsaan. Semakin baik pengetahuan agamanya, semakin bagus wawasan kebangsaannya. Siswa sekolah menegah yang memiliki sikap moderasi tinggi akan lebih matang dalam menyikapi persoalan kebangsaan. Di Sekolah Menengah lainnya memperlihatkan bahwa nilai-nilai wawasan kebangsaan yang ditanamkan kepada siswa sekolah melalui penguatan pendidikan karakter. Proses penanaman wawasan kebangsaan dimulai dari integrasi kurikulum melalui beberapa mata pelajaran diantaranya, pendidikan kewarganegaraan, pendidikan karakter dan Pendidikan Agama dan Budi Pekerti.


Selain itu proses cintan tanah air dan penanaman wawasan kebangsaan dilakukan melalui upacara bendera dan menyanyikan lagu Indonesia Raya, menghormati bendera sangsaka merah putih, doa bersama serta kegiatan kebersamaan yang mengajarkan saling menghormati dan menghargai. Proses menjadi agen moderasi dilakukan oleh masyarakat dengan sikap proaktif menciptakan perdamaian dan kerukunan diwilayah masing-masing. Dengan melibatkan Komunitas dilingkungan RT dan RW yang dibangun dengan saling menghormati kepelbagaian Kegiatan-kegiatan membangun harmonisasi dan kenyamanan, peranan ini tentunya melibatkan pimpinan agama, penggiat agama, Babinsa dan Bhabinkamtibmas.


Dilakukannya sistim keamanan lingkungan, Gerakan kebersihan dengan diadakannya gotong royong sesama warga membersihkan selokan dan lingkungan. Diadakan pelbagai kegiatan belajar memasak atau kegiatan seni, perlombaan dan olah raga rutin setiap minggunya. Secara keseluruhan melibatkan warga dari anak-anak, orang muda, dewasa dan yang lanjut usia.

Kegiatan ketahanan pangan seperti belajar tentang urban farming seperti aquaponik, hidroponik, mempelajari cara membuat Eco Enzym, cara berternak ikan lele dalam ember maupun kolam, memberdayakan lahan kosong ditengah pemukiman dengan berkebun tanaman obat keluarga. Pembelajaran komputer dan belajar menjadi entrepreneur. Masyarakat mewujudkan keakraban dan saling membutuhkan satu dengan lainnya, sehingga membentuk komunitas yang sehat. Tentu saja diharapkan Aparatur Sipil Negara yang tinggal dilingkungan, profesi lain seperti pendidik, guru, dosen, petani, pekerja kantoran, professional, pengusaha dapat melibatkan diri dalam kebersamaan ini. Mari saatnya kita bergerak cintai tanah air Indonesia, ciptakan keharmonisan. Ciptakan kesejahteraan
Pro Ecclesia Et Patria

Alkitab, 2017, Lembaga alkitab Indonesia, Jakarta

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Please Contact STT LETS...!