Refleksi HUT Republik Indoensia yang ke 73, menyongsong Pemilu: Pileg dan Pilpres 2019

35 views

Refleksi HUT Republik Indoensia yang ke 73, menyongsong Pemilu:

Pileg dan Pilpres 2019

 

Oleh

Rachmat Manullang

STT LETS

 

Sebentar lagi, pada 18 Agustus 2018 indonesia akan merayakan Hari Ulang Tahun yang ke 73. Perlu sekali untuk merenungkan apakah Indonesia sudah atau sedang mendekati tujuan KEMERDEKAAN nya, atau semakin jauh. Umat Tuhan percaya kelahiran indonesia 73 tahun yang lalu dan kalau Indonesia masih tegak berdiri sampai saat ini di antara ratusan bangsa , pasti bukan kebetulan. Pasti Tuhan ambil bagian. Tuhan ingin agar Indonesia menggenapi tujuan atau “destiny “nya. Kata Indonesia  Untuk pertama kalinya kata Indonesia muncul di dunia dengan tercetak pada halaman 254 dalam tulisan Logan (diterjemahkan ke Bahasa Indonesia):

 

“Mr Earl menyarankan istilah etnografi “Indunesian”, tetapi menolaknya dan mendukung “Malayunesian”. Saya lebih suka istilah geografis murni “Indonesia”, yang hanya sinonim yang lebih pendek untuk Pulau-pulau Hindia atau Kepulauan Hindia”. Ketika mengusulkan nama “Indonesia” agaknya Logan tidak menyadari bahwa di kemudian hari nama itu akan menjadi nama resmi. Sejak saat itu Logan secara konsisten menggunakan nama “Indonesia” dalam tulisan-tulisan ilmiahnya, dan lambat laun pemakaian istilah ini menyebar di kalangan para ilmuwan bidang etnologi dan geografi. [1]

INDONESIA sudah Melewati sejarah panjang, dan pancasila sudah menyatakan kesaktiannya, sehingga Indonesia masih ada, burung Garuda dan Pancasila masih ada dan kita akan merayakan hut RI yang ke 73. Kita percaya itu adalah perjuangan bersama dari seluruh komponen bangsa dari berbagai latar belakang agama, ras Sukun dan kelompok. Juga Oleh karena enugerahNya masih ada atas Indomesia

Indonesia adalah negeri yang ada di hati Tuhan, Tuhan punya rencana yang besar bagi Indonesia, seperti yang di Tuliskan dalam Firman Tuhan:

 

Yesaya 60:6 Sejumlah besar unta akan menutupi daerahmu,  unta-unta muda dari Midian dan Efa.

Mereka semua akan datang dari Syeba,  akan membawa emas dan kemenyan, serta memberitakan perbuatan masyhur Tuhan.

Yesaya 60:9 Sungguh, Akulah yang dinanti-nantikan pulau-pulau yang jauh; kapal-kapal Tarsis berlayar di depan untuk membawa anak-anakmu laki-laki dari jauh, perak dan emasnya dibawa serta,

untuk nama Tuhan, Allahmu, dan oleh karena Yang Mahakudus, Allah Israel, sebab Ia mengagungkan engkau.

 

Menyadari situasi politik di Indonesia yang semakin memanas dan  munculnya dua kutub yang semakin tajam, yaitu kelompok yang ingin tetap menegakan Pancasila secara murni dan konsekwen dengan kelompok yang ingin menegakan khilafah dan syariah dan gerakan radikal dengan menggunakan agama tertentu yang semakin meluas.  Tahuni ini , yaitu Tahun 2018 dan tahun 2019  adalah tahun Politik bagi Indonesia, Puji Tuhan pilkada daerah serentak  yang terasa pilpres untuk 171 diberbagai provinsi, Kota dan daerah sudah dapat dilalui dengan aman. Didepan, di tahun 2019 indonesia selanjutnya akan menghadapi pesta  politik yang lebih akbar yaitu pemilu legislatif dan pilpres serentak yang akan mewarnai Indonesia dalam 5 (Lima) tahun kedepan.

 

Di tahun 2018, penetapan caleg di seluruh tingkatan, dari Pusat, Provinsi,Kota dan kabupaten dan calon  presiden-wapres di Indonesia akan ditentukan.Partai politik yang dipilih haruslah berideologikan Pancasila dan kebangsaan, tidak sektarian  dan primordialisme dan  para Caleg yang akan dipilih haruslah mereka yang menjawab kebutuhan masyarakat dan yang memiliki integritas. Data di masyarakat mengungkapkan permasalahan secara ekonomi dan secara social yang belum terselesaikan, yaitu: Kemiskinan di daerah dan Kota, khususnya  masih terpusat di Indonesia Timur. Demikian menurut Badan Pusat Statistik yang merilis jumlah penduduk miskin di Indonesia. Saat ini jumlahnya mencapai 26,58 juta orang atau 10,12% pada September 2017.  Tingkat kemiskinan menurut pulau di Indonesia sampai September 2017 masih terpusat di Indonesia bagian Timur yakni Maluku dan Papua dengan persentase 21,23%. Kemiskinan bukan takdir/nasib melainkan akibat dari sesuatu yang ada dalam diri manusia dan pembangunan yang berpusat di Indonesia bagian barat. Kelompok penyebar kebencian/hate speech, hoax, yaitu *Saracen* sudah tertangkap_ dan menjadi pelajaran berharga bagi bangsa ini. Saracen hanya contoh kasus kecil yang jika tidak diungkap maka sangat serius membahayakan nilai-nilai persatuan. Dalam pertemuan Kepala Staf Kepresidenan dengan Persatuan Wartawan Nasrani, pada 2017 lalu disampaikan bahwa pemerintah berwenang menindak pembuat dan penyebar berita yang berpotensi perpecahan. Situasi politik hari-hari ini semakin memanas, tetapi yang paling harus kita waspadai adalah peningkatan isu politik identitas dengan menggunakan isu agama tertentu dan penuh dengan pesan negatif dan kebenciaan kepada agama, Suku, ras, kelompok yang berbeda. Bahkan  hari ini  ada kelompok tertentuyang ingin dan berusaha  mendirikan  faham agama tertentu dan model kepemimpinan agama tertentu yaitu shariah dan khilafah di Indonesia.

 

Di Tahun 2019 diperlukan  pemimpin yang bisa  menjawab kebutuhan masyarakat, juga   memerlukan   pemimpin yang memiliki keteladan dan yang memiliki komitmen menegakan Pancasila secara murni adil dan  konsekwen  bagi seluruh rakyat Indonesia. Peranan umat Tuhan di tahun 2018, begitu penting. Umat Tuhan perlu berdoa mendklarasikan Firman Tuhan/ Janji Tuhan dengan penuh kesungguhan bagi Indonesia. Umat Tuhan perlu menyuarakan kebenaran dan fakta sebenarnya melalui berbagai hal , khususnya media sosial  untuk melawan dusta atau pesan “hoaks” atau kebohongan . Selanjutnya umat Tuhan harus terus mengamati perkembangan situasi politik dan orang-orang yang mewakili parpol dalam pemilu Legistatif dan pemilu Pilres, sehingga pilihan umat Tuhan dilakukan dengan hati nurani,cerdas dan tepat sasaran. Menyadari situasi ini, perlu wadah lintas denominasi,Jaringan dan kelompok umat Tuhan yang siap berjuang bersama pemerintah dan masyarakat Warga negara indonesia dan di luar negri untuk membela pancasila dan NKRI,  dan mengatakan tidak kepada kelompok yang melakukan usaha untuk menegakan khilafah dan menegakan hukum dg agama tertentu di Indonesia. Mari umat  Tuhan, INILAH WAKTUNYA. Bangkitkan kepercayaanMu kepada janjiNya dan lakukan tindakan imanmu dengan suaramu dan ketaanmu kepada  FirmanNya bukan hanya di lingkungan Kristen tapi juga di tengah masyarakat.percayalah kemuliaanNya akan nyata atas Indonesia. Amin.

 

Referensi:

Alkitab

David, C. (2005). The Emergence of Modern Southeast Asia: A New History. Hawai‘i Press.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Please Contact STT LETS...!