Ulos dan Kekristenan dalam Adat Batak

11 views

Ulos dan Kekristenan dalam Adat Batak

Oleh

Sarif Frisvan Purba

Sekolah Tinggi Teologi Immanuel Nusantara

 

Pendahuluan

Negara Indonesia adalah negara yang terdiri dari berbagai  suku bangsa, bahasa, dan budaya. Ini adalah kekayaan dan anugerah Sang Pencipta kepada bangsa Indonesia. Dari keberagaman budaya di indonesia, salah satu yang terbesar adalah kebudayaan “BATAK”.

Dalam kebudayaan batak, ulos tidak terpisahkan dari setiap acara adat batak, itu artinya ulos adalah komponen penting dari serangkaian ritual orang batak. Pada zaman dulu ulos adalah pakaian sehari-hari bagi orang Batak (Toba). Untuk laki-laki, bagian atas disebut “hande-hande” dan bagian bawah disebut “singkot”, sedang penutup kepala disebut “tali-tali” atau “detar”. Untuk perempuan, bagian bawah hingga batas dada disebut “haen” dan untuk penutup punggung disebut “hoba-hoba”. Bila dipakai berupa selendang disebut “ampe-ampe”, sedang yang dipakai sebagai penutup kepala disebut “saong”. Bila perempuan menggendong anak, penutup punggung disebut “hohop-hohop”, sedang alat untuk menggendong disebut’ “parompa”, Inilah pembagian ulos dalam keseharian orang batak pada zaman itu. Ulos merupakan hasil dari kebudayaan orang batak atau bisa dikatakan karya seni, selain dari pada itu ulos sering diberikan dalam pesta-pesta adat yang diberikan orangtua kepada anaknya atau kepada keluarga.

  1. Pandangan yang menolak ulos

Saat ini ada aliran-aliran tertentu yang tidak memperbolehkan anggota gereja untuk menyimpan dan memakai ulos sekalipun pada saat melakukan upacara adat batak. Menurut pemahaman mereka, bahwa ulos pada zaman dulu telah bercampur dengan okultisme baik secara pembuatan dan fungsi ulos itu sendiri. Pandangan ini memang bukan tanpa alasan dikarenakan pembuatan yang begitu rumit.

  1. Karena setiap pembuatannya adalah serangkaian tindakan yang diresap oleh suatu kualitas religus-magis, dan karena itu dikelilingi oleh banyak larangan yang tidak boleh di abaikan selama prose pembuatan.
  2. Seluruh persayaratan harus dipenuhi, jikalau tidak, akan membahyakan tondi (nyawa) si penenun. Karena itu ulos dianggap sebagai sesuatu yang diberkati dengan kekuatan keramat, yang dapat memberikan berkat kebahagiaan hidup bagi penerimanya.
  3. Bagi aliran terntentu ulos batak adalah hasil warisan kekafiran, dimana mereka percaya bahwa ulos mengandung daya kuasa-kuasa magis dan ulos dianggap benda iblis yang merusak iman kekristenan.

Berdasarkan hal inilah mereka gencar mengkampanyekan pembakaran ulos, agar orang Kristen tidak menerima ataupun menyimpan ulos. Barangsiapa yang menyimpanya, maka iblis terus menerus akan merusak pikiran, rumah tangga dan kebahagiaan keluarga. mereka akan terus diserang penyakit, anaknya akan mengalami gangguan mental dan rumah tangganya tidak harmonis. Pekerjaanya tidak diberkati Tuhan, anak-anaknya kurang berhasil dan lain-lain.

  1. Sikap Kristen terhadap ulos batak

Alkitab tidak berbicara apapun tentang ulos dalam arti benda atau materi. Memang Alkitab berbahasa toba menggunakan kata ulos tapi kata ini hanya berkonotasi pada pakaian  sehari-hari. Iman Kristen tetap menghargai setiap hasil karya manusia. Karena sejak manusia pertama, Allah telah memberi mandat dasn kemampuan bagi manusia untuk mengelola alam semesta beserta dengan segala isinya (Kejadian 1:28). Dalam nats ini jelas bahwa Allah memberi mandat kepada manusia untuk berkembang dan berbudaya. Rasul Paulus sangat tegas kepada jemaat di Korintus bahwa makanan atau jenis pakaian tidak membuat kita semakin dekat atau jauh dari Kristus (2. Kor 8:11). Sebab kerajaan Allah bukan soal kostum, jenis tekstil atau mode tertentu. Karna yang sejatinya keselamatan umat Kristen adalah anugerah Allah (Efesus 6: 8-9).

 

Penutup

Ulos adalah salah satu benda seni budaya batak yang memiliki nilai tinggi. Sebagai orang Kristen kita harus melestarikan budaya kita selagi itu tidak bertntangan dengan Firman Tuhan bukan untuk menghancurkan/membakar ulos dan menghapus esensi ulos dalam kebudayaan bangsa batak. Menghargai ulos sebagai benda budaya batak, bukan bertentangan dengan iman Kristen karena Allah sendiri menyukai keindahan dan Allah sendiri juga yang memerintahkan manusia untuk berkembang dan berbudaya. Ulos tidak mengandung apa-apa atau mempunyai kuasa, baik menyembuhkan, mengusir roh-roh jahat apalagi memberi berkat. begitu juga hal sebaliknya ulos tidak mengandung roh-roh jahat dan dapat mengubah hidup orang. Adalah hal yang konyol bagi penulis jika ada segelintir orang yang ingin menghapus salah satu komponen budaya dari bangsa ini, terkhususnya bagi orang batak. jika demikian berarti orang tersebut harus siap untuk tidak ada marga dan tidak dianggap jadi orang batak.

 

Referensi

—– Alkitab. Lembaga Alkitab Indonesia Jakarta, 2014

—– Simangunsong G.M.P, Firman Dan Adat, Jakarta, 2008

—– Aritonang, Jan S dkk, beberapa pemikiran menuju Teologi Dalihan Natolu, Jakarta, 2006

—– Sinaga Richard, Meninggal Adat Dalihan Natolu, Jakarta, 2012

—– Pasaribu Jhon B, Pengaruh Injil Dalam Adat Batak, Jakarta, 2009

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Please Contact STT LETS...!