Sikap Doa yang Efektif Menurut Matius 6:5-8

620 views

Sikap Doa yang Efektif Menurut Matius 6:5-8

Oleh

Sepriani Mohar

Sekolah Tinggi Teologi Imanuel Nusantara

 

Kebanyakan dari orang kristen memiliki beberapa pertanyaan mengenai doa dan ragu untuk menanyakannya : mengapa harus berdoa? bagaimana caranya berdoa, apakah doa saya dijawab Tuhan? Apa itu doa orang berdosa? Mengapa harus berdoa jika Tuhan mengetahui dan mengontrol segala sesuatu?  Apakah doa harus berjam-jam supaya doa itu dapat didengar oleh Allah? Apa itu kuasa doa, bagaimana berdoa dalam roh, Atau dengan kata lain bagaimana berdoa dengan efektif? Dan masih banyak lagi pertanyaan-pertanyaan mengenai hal berdoa.

 

Pertanyaan-pertanyaan ini muncul karena sebagian orang tidak memahami atau mengerti konsep doa yang benar berdasarkan prinsip Alkitab. Atau doa seperti apa yang harus  dipanjatkan kehadapan Tuhan. Seringkali kita berdoa tetapi kita sendiri tidak mengerti apa itu doa, dan apa yang kita doakan, bahkan kita tidak bisa menjadikan doa sebagai suatu kebutuhan dalam hidup kita atau doa hanyalah kewajiban agama yang patut dilakukan supaya terlihat beragama atau kristen. Sehingga ketika doanya tidak dijawab Tuhan maka ia mengatakan bahwa doanya tidak sempurna sehingga dia harus merangkai kata yang indah-indah. Dalam Alkitab doa adalah kebaktian mencangkup segala sikap roh manusia dalam pendekatannya kepada Allah jika ia memuja, mengakui, memuji dan mengajukan permohonan kepadaNya dalam doa. Doa sebagai perbuatan tertinggi yang dapat dilakukan oleh roh manusia, dapat juga dipandang sebagai persekutuan dengan Allah, selama penekanannya diberikan kepada prakarsa ilahi. Dalam Alkitab doa bukanlah suatu tanggapan wajar dari manusia, karena apa yang dilahirkan dari daging adalah daging (Yoh.4:24). Sebagai akibatnya, Tuhan tidak mengindahkan setiap doa (Yes.1:15; 29:13). Ajaran Alkitab mengenai doa menekankan sifat Allah, perlunya seseorang berada dalam hubungan penyelamatan atau dalam hubungan perjanjian dengan Dia, lalu secara penuh masuk kedalam segala hak istimewa dan kewajiban dari hubungan dengan Allah.[1]  Dengan paper ini penulis menuliskan  konsep doa yang efektif berdasarkan Matius 6:5-13 dan implikasinya bagi kehidupan orang percaya. Penulis berdoa kiranya paper ini dapat membawa pembaca untuk memahami serta  memiliki kehidupan doa yang efektif dan masuk kedalam dimensi yang lebih tinggi dalam hubungan doa dengan Tuhan.

 

Mengapa Harus berdoa dengan efektif?

Pada akhir zaman ini kita harus meninggalkan: doa yang bersifat seremonial, doa yang hanya bersifat formalitas, doa yang hanya sebagai pelengkap, doa yang hanya sebagai keharusan atau kewajiban, doa rutinitas, dan doa yang asal-asalan saja dipanjat.[2] Doa adalah napas hidup orang percaya, sehingga itu merupakan kebutuhan rohani yang penting. Doa merupakan perintah Allah sehingga orang percaya harus berdoa, ini dikatakan oleh Pemazmur (1Taw 16:11Mazm 105:4), nabi (Yes 55:6Am 5:4,6), rasul (Ef 6:17-18Kol 4:21Tes 5:17), dan Tuhan Yesus sendiri (Mat 26:41Luk 18:1Yoh 16:24). Allah ingin bersekutu dengan kita; melalui doa kita memelihara hubungan dengan Allah. Doa merupakan mata rantai penting untuk menerima berkat dan kuasa Allah, dan penggenapan dari janji-janji-Nya.

 

Pada zaman Tuhan Yesus orang Yahudi menganggap berdoa sebagai suatu “kewajiban agama” yang sekurang-kurangnya sama pentingnya dengan hal memberi sedekah. Banyak orang Yahudi pada Zaman Tuhan Yesus berdoa dua atau tiga kali sehari, dan tambahan lagi mereka berdoa sebelum makan. Untuk doa-doa ini mereka memakai rumusan-rumusan yang tertentu (misalnya yang disebut “Shema” yang terdiri dari tiga perikop pendek yaitu Ulangan 6:4-9; 11:13-21; dan Bilangan 15:37-41. Dalam bahasa Ibrani Shema adalah kata ganti suruh yang artinya “Dengarkanlah!” dan nama Shema adalah nama yang diambil dari ayat yang menjadi pokok dan pusat seluruh persoalan agama Yahudi: “Dengarlah, hai orang Israel: TUHAN itu Allah kita, Tuhan itu Esa!”(Ul.6:4). Shema ini wajib diucapkan setiap hari kemudian Shemoneh’esreh yaitu delapan belas doa bahkan kadang-kadang ada yang sampai sembilan belas. Doa ini dinaikkan tiga kali sehari dan merupakan doa yang indah dan sebagian lain merupakan doa-doa yang pendek. Doa ini pun disingkat dengan tujuan agar orang Yahudi yang tidak punya waktu atau sibuk, mereka dapat mengucapnya bahkan dapat menghafalnya dimana saja).[3] Mereka berdoa untuk memperoleh pujian, mereka berusaha untuk dua waktu yang ditentukan untuk berdoa (sebelum jam 9 pagi dan jam 3 setiap sore sebelum sampai jam 9 malam) dapat dilkukan. Mereka berada di tikungan jalan, ditempat kerja, disyinagoge atau dimana saja mereka berada untuk menaikan doa ini jika mereka tidak punya waktu lagi sampai jam 9 malam. Dengan demikian kewajiban ini secara resmi atau formil saja dalam hafalan atau gumaman yang kosong belaka dan bahkan Shemoneh’esreh menjadi ucapan thakyul atau jampi-jampi saja. (orang Yahudi biasa berdoa dengan arah wajah berkiblat ke Yerusalem dengan suara berbisik).[4] Hal inilah yang menjadi dasar kecaman Tuhan Yesus bagi mereka yang melakukan hal tersebut, sehingga Tuhan Yesus mengajari murid-muridNya bagaimana berdoa dengan benar atau efektif.

Sikap berdoa yang efektif (ayat 5-8)

  1. Jangan munafik atau milikilah motifasi yang benar dalam berdoa (ayat 5)

Doa yang dilakukan orang Yahudi adalah doa orang munafik sebab ada suatu maksud yang tersembunyi dalam hatinya. Mereka berdoa seolah-olah menaruh perhatian kepada Tuhan, namun dalam hatinya mereka mempunyai tujuan untuk dipuji orang. Ini adalah sikap hati yang tidak berkenan bagi Tuhan karena mereka mencuri kemuliaan Tuhan, hal inilah yang membuat doa tidak dijawab oleh Tuhan. Tuhan tidak senang dengan kemunafikan.

  1. Jangan jadikan doa sebagai ajang pertunjukan untuk kemuliaan sendiri (ayat 6)

Tuhan Yesus mengajarkan untuk berdoalah di tempat-tempat yang tersembunyi. Dalam hubungannya dengan kebiasaan orang Yahudi, Tuhan Yesus mau supaya pengikut-pengikutnya masuk kedalam kamar dan menutup pintu. Tuhan mau supaya ada suatu pembicaraan yang tersembunyi (“Bapamu yang ada di tempat tersembunyi”). Mungkin disini titik tolak pikiran Yesus adalah “Ruang yang Maha Suci” di Bait Allah di Yerusalem, sebuah tempat yang tersembunyi, dimana hanya Imam Besar yang boleh masuk. Kata “kamar” dalam bahasa Yunani adalah gudang (dapat dikunci), tetapi kata Yunani itu juga berarti salah satu ruangan dalam yang lain. Dengan sendirinya Tuhan Yesus menyebut gudang atau ruangan dalam rumah hanya sebagai contoh. Yesus sendiri sering mencari tempat tesembunyi untuk berdoa; Ia berdoa diatas gunung-gunung. Hal menutup mata juga dalam doa merupakan suatu akal baik, apabila kita menutup mata, maka kita dapat merasakan seakan-akan kita hanya bersama Tuhan saja.[5] Tentu saja Tuhan Yesus tidak mau melarang kita berdoa dengan orang lain saja tetapi Tuhan mau juga agar kita tidak melupakan doa pribadi kita dengan Tuhan di suatu tempat yang tenang, itulah yang dapat menjadi doa yang paling sungguh-sungguh.

  1. Ketulusan dalam berdoa dengan tidak bertele-tele (ayat 7-8)

Tuhan Yesus tidak mau kita bertele-tele dalam berdoa yaitu mengucapkan banyak kata-kata dengan sia-sia atau mengoceh di dalam doa. Berdoa dengan banyaknya kata-kata dilakukan oleh orang-orang kafir ”orang yang tidak mengenal Allah”, mereka mengira bahwa, jika mereka berdoa dengan banyaknya kata-kata (Salah satu contoh doa yang demikian ialah doa nabi-nabi Baal di Gunung Karmel (1 Raj.18:20;) dewa-dewa akan dipaksa untuk menjawab doa mereka.[6] Doa itu adalah fokusnya. Doa itu ada sasarannya. Doa itu ada tujuannya. Doa itu bukan formalitas, namun keluar dari hati dan dilukiskan seperti Bapa dan anak yang berunding. Doa yang ada sasarannya sama seperti panah-panah api yang diluncurkan. Orang Yahudi adakalanya cenderung kepada pendapat bahwa jika berdoa dengan kata-kata yang panjang maka doa akan berhasil.[7] Dalam hal ini Yesus menggunakan gelar Bapa dengan maksud bahwa pengikut-pengikut Yesus boleh menganggap Tuhan sebagai Bapak, karena Dia bapak maka Ia mengetahui apa yang menjadi keperluan anak-anaknya. Sehingga pengikut Kristus tidak perlu mnegulang-ulang setiap doa yang dinaikan tetapi berdoa harus dengan motivasi yang benar.

 

Dari keseluruhan pembahasan ini dapat disimpulka bahwa setiap orang kristen dapat memiliki hubungan yang baik dengan Tuhan jika ia memiliki gaya hidup yang suka  berdoa. Doa bukan sekedar kewajiban agama, bukan serangkaian kata-kata yang indah yang keluar dari mulut tetapi tidak berdasarkan sentuhan dari hati, bukan kata-kata hafalan belaka yang kosong dan sia-sia, dan bukan juga sekedar menaikkan permohonan kepada Tuhan. Tetapi lebih dari pada itu, doa merupakan sarana untuk menyatakan kasih kita kepada Allah dan menerima kasih Allah  kepada kita.  Ketika memiliki konsep doa yang benar atau pemahaman doa yang benar, maka setiap orang orang percaya akan memiliki kualitas rohani yang baik di dalam doa. Dan kualitas itu akan menunjukkan kualitas hubungannya dengan Tuhan, sehinngga doa orang benar akan membuahkan hasil yang tidak sia-sia.

 

Referensi:

 

Alkitab. (1974). Matius 6:5-8. Jakarta: Lembaga Alkitab Indonesia.

[1]___, Ensiklopedi Jilid satu, Yayasan Komunikasi Bina Kasih (Jakarta : 1992)

[2] J.h. Gondowijoyo, Sekolah Doa, hal:31 (Yogyakarta : 2002) Yayasan Andi

[3] William Barclay, Pemahaman Alkitab Setiap Hari Injil Matius Ps.1-10, hal:320-323 (Jakarta: 1991) PT BPK Gunung Mulia

[4] Drs. J.J. de Heer, Tafsiran Alkitab Injil Matius Pasal 1-22 hal:98 (Jakarta:2011) PT BPK Gunung Mulia

[5]Drs. J.J. de Heer, Tafsiran Alkitab Injil Matius Pasal 1-22, (Jakarta : 2011) PT BPK Gunung Mulia

[6] Dr.J.L. Ch. Abineno, Doa Menurut Kesaksian Perjanjian Baru

[7] Drs. J.J. de Heer, Tafsiran Alkitab Injil Matius Pasal 1-22, (Jakarta:2011) PT BPK Gunung Mulia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Please Contact STT LETS...!